Arkeologi – Pengertian,  Sejarah, Tujuan, Manfaat, Tahapan dan Contoh Arkeologi.

Selamat datang di Lazuare.com , Pada artikel kali ini kami akan membahas sebuah materi tentang Arkeologi yang dijabarkan melalui Pengertian, Sejarah, Tujuan, Manfaat, Tahapan dan Contoh Arkeologi. Untuk lebih memahami dan mengerti simak ulasan dibawah ini.

ARKEOLOGI

Arkeologi secara etimologi berasal dari archaeo yang berarti kuno dan logos yang berarti ilmu yang mempelajari sistem kebudayaan manusia pada masa silam dalam kajian sistematis atas benda duniawi yang ditinggalkan yang menghasilkan sebuah interpretasi data. Kemudian, arkeologi didefinisikan sebagai suatu ilmu tentang kehidupan dan kebudayaan zaman kuno berdasarkan benda peninggalannya, seperti patung dan perkakas rumah tangga; atau lebih familiar dikenal sebagai ilmu purbakalaa. Arkeologi diandaikan sebagai sebuah ilmu sejarah yang berperan sebagai sebuah rumah yang memiliki banyak ruang yang dihuni oleh berbagai kelompok seperti komunitas sejarah, para ahli museum, pembuat film sejarah, dan lain-lain. Arkeologi, terutama arkeologi yang berperan bagi dunia akademik, menganggap arena heritage sebagai milik mereka dan hasil interpretasinya adalah sebuah narasi formal sebagaimana formal history (Ashton dan Hamilton, 2007).

Grahamme Clark mendefinisikan arkeologi sebagai satu bentuk kajian yang sistematik terhadap benda purba untuk membentuk sebuah sejarah. Cottrell Leonard kemudian melengkapi definisi Clark tentang arkeologi sebagai satu cerita mengenai manusia dengan merujuk kepada peninggalan berupa alat yang digunakan, monumen, rangka manusia, dan segala hasil karya dari inovasi yang diciptakan pada masa sebelumnya.

Arkeologi kemudian dikategorikan berdasarkan sifat pekerjaan yang terlibat dalam proses pengumpulan data hingga dilakukan analisis terhadap hasil temuan tersebut. Aspek ini memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap lokasi dimana penemuan bukti fisik itu sendiri, proses eskavasi, hingga interpretasi yang dilakukan oleh arkeolog yang melakukan penelitan terhadap obyek yang ditemukan.

Definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Hasil akhir dari terapan arkeologi berupa sebuah hipotesis yang menjelaskan kehidupan masyarakat di masa lalu; baik berupa benda yang digunakan, tatanan sosial, hingga pembagian ruang hidup; yang semua didasarkan dari penemuan benda fisik yang ada di lapangan.

Peninggalan fisik menjadi dasar dalam pemahaman arkeologi sebagai ilmu yang mempelajari nilai sejarah dan sistem kebudayaan yang berkembang di masa lampau, arkeologi sebagai ilmu juga dibantu oleh ilmu sejarah, antropologi, geologi, geografi, arsitektur, paleoantrologi, dan bioantropologi dalam proses penelitian yang mendalam untuk mendapat data selengkap-lengkapnya sebelum selanjutnya diolah menjadi sebuah interpretasi yang menjadi dasar ilmu dan disebarluaskan kepada masyarakat. Archaeological reasoning diperlukan dalam proses pengolahan data dari peninggalan fisik berupa archaeological records dan kebudayaan setempat yang bertindak sebagai historical facts. Hasil pengolahan data arkeologi menjadi sebuah premis dalam bentuk deskripsi mengenai pattern yang ditampakkan dari teknik tipologi, klasifikasi, dan diperlakukan sebagai contemporary arts (Binford, 2002).

Pengertian Arkeologi

Arkeologi adalah studi tentang hal-hal yang dibuat, digunakan, dan ditinggalkan orang. Tujuan arkeologi adalah untuk memahami seperti apa orang-orang di masa lalu dan bagaimana mereka hidup. Ilmuwan yang mempelajari arkeologi disebut arkeolog.
Karya seorang arkeolog dimulai dengan menemukan situs untuk dipelajari. Beberapa situs arkeologi, seperti kota-kota kuno, terlihat di permukaan. Situs-situs lain terkubur jauh di bawah tanah.

Setelah menemukan situs, seorang arkeolog menggali dengan lambat dan hati-hati. Karya ini disebut penggalian, atau “ekskavasi.” Para arkeolog menggunakan sendok, pisau, pemetik, sikat, dan alat-alat lain dalam pekerjaan mereka. Mereka mencoba mengungkap bangunan, peralatan, senjata, seni, dan apa pun yang dibuat orang. Barang-barang ini disebut artefak.
Kemudian para arkeolog mempelajari benda-benda itu. Mereka ingin tahu kapan artefak dibuat, dari mana benda itu dibuat, dan untuk apa benda itu dibuat. Para arkeolog memiliki beberapa metode untuk mengetahui usia artefak. Salah satu metode disebut penanggalan karbon-14. Karbon-14 adalah bahan kimia yang ditemukan di semua organisme, atau makhluk hidup. Setelah organisme mati, jumlah karbon-14 berkurang pada tingkat tertentu. Seorang arkeolog mengukur penurunan ini untuk mengetahui berapa lama organisme itu mati.

Para arkeolog juga mencoba memahami budaya dari mana artefak berasal. Misalnya, alat-alat seperti ujung panah, pisau, dan batu gerinda dapat memberi tahu seorang arkeolog bagaimana orang mendapatkan dan menyiapkan makanan mereka.
Seorang arkeolog terkadang bekerja dengan para ahli dari bidang studi lain. Ahli botani, ahli zoologi, ilmuwan tanah, dan ahli geologi dapat membantu mengidentifikasi tanaman, hewan, tanah, dan batu yang ditemukan bersama dengan artefak.

Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti “kuna” dan logos, “ilmu”. Nama alternatif arkeologi adalah ilmu sejarah kebudayaan material. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan.
Arkeologi merupakan disiplin ilmu. Definisi yang paling sederhana adalah to write history from surviving material Source. Kegiatan yang paling penting dari pengertian arkeologi sebagai ilmu adalah proses ekskavasi yaitu melakukan kegiatan mengumpulkan benda-benda dari dalam tanah melalui penggalian untuk mengungkap kehidupan manusia di masa lampau. Dalam kesimpulan ini seorang arkeolog Eropa, Stuart Piggot (1959) menyatakan bahwa archeology as history. Secara umum arkeologi adalah ilmu yang mempelajari manusia beserta kebudayaan-kebudayaan yang terjadi dimasa lalu / masa lampau melalui peninggalanya. Secara khusus arkeologi adalah ilmu yang menpelajari budaya masa silam yang sudah berusia tua baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan) maupun pda masa sejarah (setelah adanya bukt-bukti tertulis).

Baca Juga :  Norma Hukum – Pengertian, Sanksi, Sumber, Jenis & Contoh

Perlunya penggabungan ilmu arkeologi dengan ilmu sejarah bertujuan untuk memperkaya gambaran tentang aktivitas kehidupan manusia di masa lampau. Hal ini tentu saja berkaitan dengan upaya mengungkap masa lamapau umat manusia dengan bertumpu kepada peninggalan berupa benda. Contoh penggabungan itu di Indonesia kerjasama antara sejarah dan arkeologi pernah dilakukan di situs Banten. Data-data sejarah mengungkapkan tentang pendaratan armada Belanda dan kegiatannya di Banten. Sedangkan arkeologi terhadap semua catatan sejarah itu harus menjawab dari sisi yang lain. Misalnya bagaimana kondisi masyarakat banten pada akhir abad VI apakah sudah metropolitan dan bagaimana bentuk alat-alat serta benda-benda keperluan mereka sehari-hari. Penelitian ini harus berupa kajian yang sistematis.
Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi).. Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.

Tujuan arkeologi beragam dan menjadi perdebatan panjang. Di antaranya adalah apa yang disebut paradigma arkeologi, yang menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta memahami proses perubahan budaya.
Karena bertujuan untuk memahami budaya manusia, ilmu ini termasuk ke dalam kelompok humaniora. Meskipun demikian, ada berbagai ilmu bantu yang digunakan, antara lain, sejarah, antropologi, geologi untuk ilmu membentuk lapisan bumi adalah referensi umur relatif dari arkeologi temuan, geografi, arsitektur, paleoantropologi dan bioantropologi, fisika, antara lain , dengan karbon C-14 untuk mendapatkan pertanggalan mutlak, ilmu metalurgi untuk mendapatkan unsur-unsur benda logam, serta filologi mempelajari naskah kuno.

Arkeologi pada saat ini mencakup berbagai bidang terkait. Sebagai contoh, penemuan mayat dikuburkan akan menarik para ahli dari berbagai bidang untuk belajar tentang pakaian dan jenis bahan yang digunakan, bentuk keramik dan cara penularan.
Kepercayaan melalui apa mayat yang dikuburkan bersama-sama, ahli kimia dapat menentukan usia penggalian melalui cara-cara seperti metode pengukuran karbon 14. Sementara ahli genetik yang ingin mengetahui pergerakan migrasi manusia purba, meneliti DNA.

Secara khusus, budaya arkeologi studi terakhir, yang sudah tua, terkenal di zaman prasejarah sebelum menulis, serta di zaman sejarah ketika ada bukti tertulis. Pada pengembangan, arkeologi juga dapat mempelajari budaya masa kini, seperti yang dipopulerkan dalam studi budaya material modern budaya material modern.
Karena hal itu bergantung pada objek peninggalan masa lalu, yang membutuhkan pelestarian benda purbakala seperti sumber data. Oleh karena itu, kemudian dikembangkan disiplin lain, yaitu pengelolaan sumber daya arkeologi Arkeologi Sumber Daya Manajemen, atau lebih luas adalah CRM manajemen sumber daya budaya, Budaya Manajemen Sumber Daya.

Pengertian Arkeologi Menurut Para Ahli
Berikut ini terdapat beberapa pengertian arkeologi menurut para ahli, terdiri atas:

1. Paul Bahn menyatakan pengertian asas arkeologi ialah satu kajian sistematik tentang masa lampau yang berasaskan budaya kebendaan dengan bermatlamat untuk membongkar, menerangkan dan mengklasifikasikan tinggalan-tinggalan budaya, menguraikan bentuk dan perilaku masyarakat masa silam serta memahami bagaimana ia terbentuk dan akhir sekalimerekonstraksinya semula.

2. Grahame Clark mendefinisikan arkeologi sebagai satu bentuk kajian yang sistematik ke atasbahan-bahan purba bagi membentuk semula sejarah.

3. Cottrell Leonard mendefinisikan arkeologi sebagai satu cerita mengenai manusia dengan merujuk kepada tinggalan seperti peralatan yang digunakan, monumen, rangka manusia dan segala yang terhasil dari inovasiyang diciptanya.

4. Glyn Danial mendefinasikan arkeologi sebagai satu cabang sejarah yang mengkaji tinggalan-tinggalan masa lampau. Kajian sejarah yang menggunakan segala maklumat sama ada bertulis, epigrafik atau tinggalan dengan matlamat akhir untuk mendapatkan gambaransebenar tentang manusia masa silam.

5. Frank Hole dan Robert F. Heizer pula merujuk arkeologi sebagai suatu kajian tentang masasilam manusia yang dikaji terutamanya melalui bahan-bahan peninggalan. Arkeologi jugamerupakan satu susunan kaedah dan tatacara penyelidikan masa lalu yang mengambarkandata-data yang diperolehi dan latihan akademik serta orentasi teori ahli arekologi.

6. Robert J. Sharer dan Wendy Ashmore melihat arkeologi sebagai bahagian khusus tentangteknik yang digunakan dalam menbongkar bukti tentang masa lalu dan sebagai satu disiplinyang mengkaji masyarakat dan kebudayaan silam berdasarkan budaya kebendaan ianyamenerangkan perkembangannya serta bagaimana ianya berlaku.

7. Glyn Isaac menyatakan disiplin arkeologi sebagai satu disiplin yang cuba menerangkanhubungan di kalangan manusia dan di antara manusia dengan dunia kebendaan. Menurutnyalagi, ianya merupakan bukan satu disiplin sains jati, sains sosial dan cabang kemanusiaantetapi lebih merupakan usaha khusus atau tempat untuk semua bidang bertemu.

8. De Leat menganggap arkeologi sebagai satu disiplin sains dan cabang kepada bidangsejarah.

9. Walter Tylor menyatakan arkeologi tidak lebih daripada suatu kaedah dan kumpulan teknik yang khusus untuk mendapatkan maklumat mengenai budaya.

10 Nik Hassan Shuhaimi menerangkan pengertian arkeologi pada mulanya ialah satu bentuk kajian ke atas bahan purba melalui kaedah deskriptif yang sistematik pada sekitar awal abadke 18 kemudiannya berkembang kepada maksud sejarah purba pada abad ke 19 dan kinisebagai satu disiplin yang bertujuan untuk membentuk semula sejarah kebudayaan, sejarahcara hidup dan proses kebudayaan masyarakat pra sejarah, proto sejarah dan sejarah denganmengkaji artifak dan non artifak serta melihatnya dalam konteks alam sekitar

Sejarah Arkeologi

Berdasarkan catatan sejarah, pada abad ke-6 Sebelum Masehi atau sekitar 556 Sebelum Masehi hingga 539 Sebelum Masehi, Raja Neo Babilonia bernama Nabonidus beserta putrinya melakukan penggalian peninggalan masyarakat berupa kuil di masa kuno. Tujuan penggalian ini untuk melihat fondasi bangunan kuno di masa lampau.
Pada abad ke-5 Sebelum Masehi, Herodotus, sarjana dari Yunani, mengumpulkan data dan mengobservasi adat kebiasaan bangsa Mesir Kuno, Scythia, Yunani dan Persia, secara etnografis. Hingga saat ini, Herodotus dikenal sebagai bapak antropologi dan sejarah.
Selama berabad-abad, etnografis menjadi cara utama pengumpulan data penelitian di masa lampau. Arkeologi mulai dikenal pada abad Renaissance. Saat itu, banyak ahli mempelajari bangunan monumen kuno di Yunani dan Italia.
Hingga 1840, arkeologi belum menjadi bagian dari disiplin ilmiah. Namun, arkeologi terus berkembang sebagai metode pengumpulan data kuno. Akhirnya arkeologi dikenal sebagai salah satu cabang keilmuan yang membawa banyak manfaat.

Baca Juga :  Telinga - Pengertaian, Fungsi dan Bagian-bagian Telinga

Tujuan Arkeologi

Dalam jurnal Pusat Kajian dan Penelitian Arkeologi Kalimantan Barat (2013) karya Benson Manalu, secara garis besar ilmu arkeologi bertujuan untuk mendapatkan data akurat tentang kehidupan di masa lampau.

Jika dijabarkan, ilmu arkeologi memiliki tiga tujuan utama, yaitu:
1. Merekonstruksi sejarah budaya atau menggambarkan kembali sejarah kebudayaan masyarakat di masa lampau.
2. Merekonstruksi bagaimana mobil kehidupan manusia atau menggambarkan kembali cara hidup masyarakat di masa lampau.
3. Merekonstruksi proses budaya atau menggambarkan kembali proses perubahan budaya di masa lampau.

Target untuk mencapai tujuan tersebut adalah semua sisa-sisa masa lalu sebagai objek studi dari segi bentuk, fungsi dan proses pembuatan, penggunaan, pembuangan dan daur ulang (konversi dan penggunaan kembali).

Manfaat Arkeologi

Arkeologi sebagai salah satu cabang ilmu, bermanfaat untuk memberi gambaran kepada masyarakat tentang bagaimana kehidupan di masa lampau. Ilmu ini juga bermanfaat untuk memberi pengetahuan mengenai peradaban manusia.
Ilmu arkeologi membantu manusia dalam mendapat pengetahuan serta mengerti bagaimana asal muasalnya serta peristiwa apa saja yang terjadi.

Tahapan Arkeologi

Dilansir dari Museum of Ontario Archaeology, penelitian arkeologi dibagi menjadi empat tahapan besar, yaitu:

1. Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan Data, meliputi:

a. Penjajagan
Pengamatan tinggalan arkeologi di lapangan untuk memperoleh gambaran tentang potensi data arkeologi dari suatu situs arkeologi.Dalam tahap ini, peneliti melakukan pengamatan terhadap keadaan lingkungan dan pencatatan tentang jenis tinggalan arkeologi (archaeological remains, kemudian menandai ke dalam peta (plotting).

b. Survei
Surevei adalah pengamatan tinggalan arkeologi yang disertai dengan analisis yang dalam. Survei juga dapat dilakukan dengan cara mencari informasi dari penduduk. Tujuan survei untuk memperoleh benda atau situs arkeologi yang belum pernah ditemukan sebelumnya atau penelitian ulang terhadap benda atau situs yang pernah diteliti.

Kegiatan survei terdiri atas:

1) Survei Permukaan
Kegiatan untuk mengamati permukaan tanah dari jarak dekat. Pengamatan dilakukan untuk mendapatkan data arkeologi dalam konteksnya dengan lingkungan sekitarnya antara lain jenis tanah, keadaan permukaan bumi, keadaan flora.

2) Survei Bawah Tanah
Merupakan aktivitas untuk mengetahui adanya tinggalan arkeologi yang terdapat di bawah tanah dengan menggunakan alat-alat tertentu. Teknik yang sering digunakan adalah: pemantulan (dowsing), penusukan (probing), pengggemaan (sounding), pengeboran (augering), geofisika.

3) Survei Bawah Air
Survei bawah air dapat dilakukan dengan cara:
– Teknik Banjar Linier, para penyelam menempatkan diri pada jarak tertentu, kemudian bergerak bersama-sama         kea rah depan dengan suatu garis lurus.
– Teknik Banjar Melingkar, para penyelam menempatkan diri pada jarak tertentu, kemudian secara berbanjar               melakukan survey dengan mengelilingi suatu titik yang telah ditentukan membentuk radius yang semakin besar.

4) Survei Udara
Survei udara dimaksud sebagai pengamatan dari udara terhadap gejala permukaan tanah dan mendokumentasikan dengan alat foto. Penafsiran foto udara ini akan menitikberatkan pada perbedaan pola dan warna dari suatu foto udara yang akhirnya dapat memberikan berbagai penafsiran keadaan yang sebenarnya di darat.

5) Wawancara
Wawancara adalah interaksi dan komunikasi yang akan di alami oleh arkeolog dalam pengumpulan data. Wawancara dalam arkeologi lebih dikhususkan untuk studi etnoarkeologi.Wawancara dapat dilakukan dengan wawancara tertutup dan wawancara terbuka.

6) Sampling
Penarikan sampling merupakan suatu kegiatan peting dalam penelitian arkeologi, karena dapat memberikan gambaran yang representatif mengenai kuantitas dan kualitas data arkeologi dari suatu situs.

c. Ekskavasi
Ekskavasi adalah satu teknik pengumpulan data melalui penggalian tanah yang dilakukan secara sistematik untuk menemukan suatu atau himpunan tinggalan arkeologi dalam situasi in situ.

Teknik ekskavasi dapat dibagi atas:
1) Teknik Spit (arbitrary level), teknik yang didasarkan pada kepadatan temuan ataupun jenis temuan.
2) Teknik Lapisan Alamiah (natural layer), menggali tanah dengan mengikuti lapisan tanah secara alamiah.
3) Teknik Lot, teknik menggali yang menggabungkan teknik lapisan alamiah dengan teknik spit.

2. Pengolahan Data

Data-data yang akan diolah antara lain adalah:
a. Artefak : benda alam yang diubah oleh tangan manusia, baik sebagian (kapak perimbas, serpih bilah, alat tulang), maupun seluruhnya (keramik)
b. Serbuk sari, tanah.
c. Fitur: artefak yang tidak dapat diangkat dari tempat kedudukannya (matrix), misalnya: bekas lantai, bekas dinding, makam, lubang atau posthole, dll.

Setelah data dikumpulkan, maka data tersebut diolah melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Klasifikasi awal : artefak dan ekofak yang terkumpul harus segera dibersihkan dan dikonservasikan serta melakukan pencatatan penemuan, foto, gambar.

Baca Juga :  Media Gambar – Pengertian, Karakteristik, Fungsi, Jenis, Manfaat, Kelebihan, Kekurangan & Contoh

Perlakuan terhadap artefak dan ekofak:
1) penomoran dan penginventarisasikan berdasarkan kategori
2) pengkatalogisasian dan pemilahan berdasrkan kategori
3) penyimpanan berdasarkan kategori

b. Klasifikasi lanjutan : klasifikasi lanjutan dilakukan untuk menentukan dan kemudian menyajikan data dalam kelompok yang sama dan yang berbeda, yang akan memunculakn pola dan konteksnya. Dasar pengelompokkan dalam klasifikasi adalah atribut yang terdapat pada suatu artefak yaitu atribut bentuk (berkaitan dengan bentuk tiga dimensi serta ukuran metrik artefak), atribut gaya (berkaitan dengan ragam hias, motif hias, dan pola hiasan artefak), dan atribut teknologi (berkaitan dengan bahan, teknik pembuatan, tekni penyelesaian serta teknik hias artefak)

3. Analisis

Dalam penelitian arkeologi, analisis dilakukan melalui 3 tahap:
a. Tahap identifikasi, tahap penentuan atribut-atribut yang dimiliki
b. Tahap perekaman, tahap memasukkan data dalam formulir atau strukutr database.
c. Tahap pengolahan, tahap mencari korelasi data antar artefak atau konteks lain.

Analisis artefak dibagi menjadi 4 macam:
a. Analisis morfologi: mengindentifikasi pegangan terhadap bentuk dan ukuran
b. Analisi tekonologi: mengidentifikasi teknik pembuatan artefak berdasarkan bahan baku, pengolahan bahan, teknik pengerjaan samapi dihasilkan termasuk teknik menghias
c. Analisi stalistik : mengidentifikasi aspek dekoratif, seperti: warna, hiasan, ragam hias.
d. Analisi jejak pakai : mengkhususkan pada pengamatan terhadap hal-hal yang menunjukkan sisa penggunaan atau bekas pemakaian.

4. Tahap Pelaporan dan Publikasi

Pelaporan hasil penelitian adalah bentuk pertanggungjawaban morak dan akademis terhadap penelitian yang dilakukan. Selain itu, publikasi hasil penelitian bertujuan untuk mengsosialisasikan hasil-hasil penelitian dengan sasaran masyarakat ilmiah dan masyarakat umum.

Publikasi dapat dilakukan dalam beberapa cara, antara lain:
a. Buku.
b. Pameran, usaha untuk memasyarakatkan arkeologi dikalangan masyarakat umum.
d. Visual, publikasi dapat dilakukan dalam bentuk visualisasi berupa foto-foto arkeologi serta bentuk audiovisual dalam bentuk film.

Contoh Arkeologi

Sejumlah besar penemuan arkeologi berharga memungkinkan kita untuk mengungkap beberapa misteri dan rahasia dari masa lalu. Melansir dari Bright Side, berrikut temuan arkeologi paling menakjubkan yang telah mengubah sejarah manusia, yaitu:

1. Machu Picchu

Benteng suci Inca yang terkenal ini terletak di Peru dan didirikan sekitar tahun 1440-1532. Machu Picchu ditemukan oleh sejarawan Amerika darii Universitas Yale, Hiram Bingham.
Reruntuhan indah Machu Picchu adalah contoh terbaik dari konstruksi batu peradaban Inca. Ada sekitar 200 bangunan yang terletak di daerah dengan panjang 365 meter dan lebar 300 meter.

 

 

2. Tentara Terakota

Seorang petani lokal dari provinsi Shaanxi tengah menggali sumur ketika ia menemukan tentara dari keramik pada tahun 1947. Ribuan prajurit Terracotta ini berdiri tepat di depan makam besar Kaisar Qin Shi Huang untuk menjaganya di akhirnya.
Bagi peneliti, konstruksi besar ini telah menjadi indikator dari sisi humanisme yang belum pernah terjadi sebelumnya. Terlepas dari kenyataan bahwa tentara telah ditemukan puluhan tahun lalu, makam Kaisar sendiri hingga kini masih belum ditemukan.

 

3. Gulungan Laut Mati

Sebuah koleksi naskah kuno ditemukan di beberapa tempat di sepanjang pantai Laut Mati. Studi menunjukkan bahwa gulungan-gulungan itu usianya 1.000 tahun, lebih tua dari naskah Perjanjian Lama. Berkat teks-teks ini, dapat diketahui bagaimana kehidupan orang-orang di zaman kuno.

 

 

 

4. Prasasti Behistun

Prasasti ini ditemukan oleh wisatawan dan petualang Inggris, Robert Sherley, selama misi diplomatiknya di Persia pada tahun 1598. Prasasti itu merupakan teks multibahasa yang diukir atas perintah Raja Darius Agung.
Prasasti Behistun memungkinkan para arkeologi untuk mempelajari peradaban kuno seperti Mesopotamia, Sumeria, Akkad, Persia, dan Asyur.

 

5. Olduvai Gorge

Merupakan tempat yang kaya akan temuan prasejarah. Situs ini ditemukan oleh entomologi Jerman, Wilhelm Kattwinkel, pada tahun 1911.
Tiga spesies terpisah dari hominin, termasuk Australopithecus, Homo sabilis, Homo erectus, telah ditemukan di jurang. Sisa-sisa kuda kuno berkuku tiga juga ditemukan di situs ini.

 

 

6. Angkor Wat

Catatan paling awal tentang tanggal konstruksi batu besar ini adalah tahun 1601. Kuil ini sempat terlupakan selama 200 tahun sebelum akhirnya ditemukan.
Angkor Wat merupakan monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang merupakan jantung peradaban besar ini memiliki tangga dan lorong-lorong yang dimahkotai dengan lima menara.

 

7. Mekanisme Antikythera

Perangkat yang diperkirakan berasal dari tahun 100 SM ini ditemukan di sebuah kapal karam dekat pulau-pulau Yunani pada ahun 1901. Menurut para ilmuwan, perangkat mekanik ini terdiri dari setidaknya 30 gigi perunggu.
Perangkat ini digunakan untuk menghitung gerakan bintang dan planet. Para ilmuwan percaya, mekanisme mekanik ini juga digunakan untuk menentukan tanggal yang tepat dari awal Olimpiade.

 

 

 

 

Itulah tadi pembahasan sebuah materi tentang Arkeologi yang dijabarkan melalui Pengertian, Sejarah, Tujuan, Manfaat, Tahapan dan Contoh Arkeologi. Kami harap teman-teman bisa mendapatkan manfaat setelah membaca pembahasan artikel tersebut. Terimah kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.