Audit Manajemen – Pengertian, Tujuan, Jenis, Manfaat, Karakteristik, Tahap dan Ruang Lingkup Audit Manajemen

Selamat datang di Lazuare.com
Untuk kali ini kami akan membahas sebuah artikel tentang Audit Manajemen yang dijabarkan melalui Pengertian, Tujuan, Jenis, Manfaat, Karakteristik, Tahap dan Ruang Lingkup Audit Manajemen. Berikut penjelasannya:

Permintaan untuk audit, baik internal audit maupun eksternal audit, berasal dari kebutuhan organisasi untuk mendapatkan verifikasi independen untuk mengurangi permasalahan kesalahan pencatatan, penyalahgunaan aset, dan juga kecurangan. Ahli sejarah menyatakan bahwa 3.500 tahun sebelum Masehi telah mulai ada audit. Peninggalan pencatatan dari zaman Mesopotami menunjukkan adanya tanda centang di sebelah angka yang terkait transaksi keuangan, yang menggambarkan adanya verifikasi. Sejarah di Mesir, Yunani, dan Roma juga mengindikasikan sudah adanya sistem yang mirip. Perkembangan selanjutnya di abad pertengahan adalah double-entry bookkeeping muncul pada tahun 1494, yang timbul karena kebutuhan adanya pertanggungjawaban dan pengendalian.

Revolusi industri di Inggris menandai mulai munculnya audit. Perusahaan mempekerjakan akuntan untuk mengecek catatan keuangan. Pada abad 19, auditing juga mulai menyebar ke Amerika. Setelah Perang Dunia I pertumbuhan Amerika meningkat dan perusahaan mulai secara sukarela memublikasikan laporan keuangan auditan. Dengan perkembangan aktivitas bisnis yang sangat cepat dan semakin kompleks semakin meningkatkan kebutuhan untuk adanya fungsi internal audit yang memverifikasi informasi yang digunakan oleh manajemen untuk pengambilan keputusan. Di awal abad ke 20, mulai muncul pembentukan fungsi internal audit. Selama bertahun-tahun, auditor eksternal mempengaruhi bagaimana pelaksanaan internal audit. Perkembangan profesi internal audit berikutnya tidak terlepas dari berdirinya The Institute of Internal Auditors (IIA) di Amerika Serikat pada tahun 1941. Setelah periode tersebut, internal audit mengembangkan cakupan auditnya ke seluruh aspek dari organisasi dan mempunyai posisi setara dengan auditor eksternal. IIA mengembangkan the International Professional Practices Framework (IPPF) yang merupakan kerangka konseptual yang mengorganisir standar dan panduan internal audit.

Pengertian Audit Manajemen

Audit Manajemen (Management Audit) adalah pengevalusian terhadap efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan. Dalam konteks audit manajemen, manajemen meliputi seluruh operasi internal perusahaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada berbagai pihak yang memiliki wewenang yang lebih tinggi. Audit manajemen dirancang secara sistematis untuk mengaudit aktivitas, program-program yang diselenggarakan, atau sebagian dari entitas yang bisa diaudit untuk menilai dan melaporkan apakah sumber daya dan dana telah digunakan secara efisien, serta apakah tujuan dari program dan aktivitas yang telah direncanakan dapat tercapai dan tidak melanggar ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan perusahaan.

Audit manajemen merupakan suatu teknik yang mencakup beberapa bidang yang luas mengenai prosedur, metode penilaian, kelayakan dan pendekatan-pendekatan. Pemeriksaan manajemen dibuat dalam menganalisa, menilai, melakukan peninjauan ulang dan menimbang hasil kerja perusahaan dibanding dengan standar yang sudah ditetapkan atau pedoman yang ditentukan dari perusahaan. Adapun tujuan dilakukan pemeriktaan manajemen yaitu untuk melakukan evaluasi efisiensi dan efektifitas perusahaan (Alexander Hamilton Institute, 1986:1)

Bidang yang ditangani oleh audit manajemen adalah aspek ekonomi, struktur organisasi yang mumpuni, pemenuhan akan kebijakan dan prosedur, kehandalan sistem kontrol, metode perlindungan yang cukup, penyebab perubahan-perubahan, efektifitas dari pemanfaatan SDM dan peralatan, efisiensi dari metode operasional dan lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa audit manajemen melakukan evaluasi dan penilaian terhadap seluruh segmen atau beragam segmen perusahaan. Ruang lingkupnya mencapai hingga lingkup yang mendetail seperti sistem dan sub sistem, prosedur, pembagian kerja, otorisasi, akuntabilitas, kualitas SDM, dan lainnya

Pengertian Audit Manajemen Menurut Para Ahli
Berikut ini terdapat beberapa pengertian audit manajemen menurut para ahli, terdiri atas:

1. Menurut Allan J. Sayle
Audit manajemen adalah pengujian yang independen atas bukti yang objektif, yang dilakukan oleh personel yang terlatih, untuk menentukan apakah sistem manajemen terintegrasi, yang bertujuan untuk memenuhi kewajiban kontraktual dan kewajiban legal perusahaan atas pelanggan dan komunitas diimplementasikan secara efektif dan hasil dari pengujian tersebut disajikan secara benar dan wajar.

2. Menurut Leo Herbert (dikutip dari Tunggal, 2000)
Audit manajemen adalah:
a. perencanaan untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti yang cukup, relevan, material, dan kompeten,
b. dilaksanakan oleh auditor independen,
c. dengan tujuan audit: untuk menilai apakah manajemen dan pegawai entitas telah atau belum menerima dan melaksanakan hukum, regulasi, kebijakan, prosedur, atau standar manajemen lainnya untuk menggunakan sumber daya secara tepat dalam cara yang efisien dan ekonomis,
d. dari bukti atas tujuan audit tersebut, auditor akan sampai pada opini atau kesimpulan dan melaporkan ke pihak ketiga.

3. Menurut Arens dan Loebbecke “2003:12”
Audit manajemen adalah evaluasi terhadap seluruh prosedur dan metode organisasi perusahaan, dalam tujuan untuk mengevaluasi tingkat efisiensi dan efektivitas perusahaan.

4. Menurut Carmichael dan John Wilingham
Manajemen audit adalah suatu penelaahan sistematis terhadap aktivitas suatu organisasi tertentu dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan tertentu dengan maksud untuk menilai kegiatan, mengidentifikasi berbagai kesempatan untuk perbaikan, mengembangkan rekomendasi bagi perbaikan atau tindakan lebih lanjut.

Baca Juga :  Bukan Sekedar Puasa

5. Menurut R.A Supriyono (1990)
Audit manajemen adalah sebagai suatu proses pemeriksaan secara sistematik yang dilaksanakan oleh pemeriksa independen untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti secara objektif atas prosedur dan kegiatan-kegiatan manajemen, serta mengkomunikasikan hasil pemeriksaannya kepada atasan manajer yang diperiksa dan disertai dengan bukti dan suati rekomendasi kemungkinan tindakan koreksi”.

6. Menurut Guy dkk. (2003:419)
Audit manajemen adalah penelaahan atas prosedur dan metode operasi entitas untuk menentukan tingkat efisiensi dan efektivitasnya. Pada kesimpulan tentang audit manajemen, rekomendasi yang umumnya diberikan adalah memperbaiki prosedur. Audit manajemen kadang-kadang disebut audit kinerja, audit sumber daya manusia, atau audit komprehensif.

7. Menurut Sukrisno Agoes dan Jan Hoesada (2009:46)
Audit manajemen adalah suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen untuk mengetahui apakah kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien, dan ekonomis.

Tujuan Audit Manajemen

Audit manajemen bertujuan untuk mengidentifikasi kegiatan, program, dan aktivitas yang masih memerlukan perbaikan, sehingga dengan rekomendasi yang diberikan nantinya dapat dicapai perbaikan atas pengelolaan berbagai program dan aktivitas pada perusahaan tersebut. Titik berat audit manajemen diarahkan terutama pada berbagai objek audit yang sekiranya daapt diperbaiki di masa yang akan datang, di samping juga mencegah terjadinya berbagai kerugian.

Menurut Hamilton (1986:1) tujuan dari management audit secara keseluruhan adalah untuk mengevaluasi efisiensi dan efektifitas dari organisasi. Evaluasi ini bisa dilakukan pada perusahaan secara keseluruhan atau dibatasi pada lingkup departemen atau fungsi tertentu dalam organisasi. Evaluasi terhadap kinerja perusahaan ini dilakukan terhadap standar yang dibuat oleh manajemen atas dan pada saat yang sama digunakan untuk menilai keefektifan dari standar-standar dan kebijakan-kebijakan tersebut.

Adapun tujuan management audit menurut Agoes (1996:173) adl sebagai berikut:

1. Untuk menilai kinerja (performance) dari manajemen dan berbagai fungsi dalam perusahaan.
2. Untuk menilai apakah berbagai sumberdaya (manusia, mesin, dan harta lainnya) yang dimiliki perusahaan telah digunakan secara efisien dan ekonomis.
3. Untuk menilai efektifitas perusahaan dalam mencapai tujuan (objective) yang telah ditetapkan oleh top management.
4. Untuk dapat memberikan rekomendasi kepada top management dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam penerapan struktur pengendalian intern sistem pengendalian manajemen dan prosedur operasional perusahaan dalam rangka meningkatkan efisiensi keekonomisan dan efektifitas dari kegiatan operasi perusahaan.

Jenis-jenis Audit Manajemen

Berikut dibawah ini jenis-jenis audit manajemen menurut para ahli yaitu:

– Arens dan Loebbecke (2000:756) mengelompokkan management audit menjadi 3 jenis yaitu functional, organizational dan special assignment. Berikut penjelasan dari masing-masing jenis tersebut :

1. Functional audit berkaitan dengan satu atau lebih fungsi didalam organisasi. Keuntungan dari functional audit adl diperbolehkan adanya spesialisasi oleh auditor. Auditor dalam staff internal audit bisa sangat ahli dalam sebuah bidang misal fungsi production engineering. Mereka bisa secara efisisen menghabiskan waktu mereka utk mengevaluasi fungsi-fungsi yang berkaitan.

2. Organizational audit dalam sebuah organisasi berkaitan dengan seluruh unit organisasi seperti departemen cabang atau anak perusahaan. Penekanan dalam organizational audit adalah seberapa efektif dan efisien fungsi-fungsi tersebut berinteraksi. Perencanaan organisasi dan metode-metode untuk mengkoordinasi aktivitas-aktivitas yang ada sangat penting dalam tipe audit ini.

3. Special Assignment. Dalam operational auditing special assignment biasa muncul karena permintaan manajemen. Jenis audit tipe ini cukup luas. Sebagai contoh menentukan penyebab tidak efektif sistem IT investigasi terhadap kemungkinan ada fraud dalam sebuah divisi dan pemberian rekomendasi untuk menurunkan harga pokok produksi.

– Menurut Sayle (1988:21) management audit dikelompokkan menjadi tiga jenis sesuai dengan keragaman departemen mereka dan ruang lingkup sebagai berikut :

1/ Internal Audit. Management audit ini dapat dilakukan oleh perusahaan atau departemen yang bersangkutan dengan sistem-sistem prosedur-prosedur atau fasilitas-fasilitas. Auditor yang mengerjakan dapat dari perusahaan mereka sendiri (internal auditor) atau dengan menggaji auditor dari luar perusahaan (external auditor). Internal audit merupakan teknik dimana manajemen dapat merasakan masalah mereka sendiri dan menilai kinerja organisasi kebutuhan titik kekuatan dan kelemahannya. Disebutkan bahwa self audit merupakan bagian dari internal audit yang dilakukan oleh individual dalam sistem mereka sendiri prosedur-prosedur dan fasilitas-fasilitas agar dapat menilai kinerja kebutuhan kekuatan dan kelemahannya.

2. External audit. Management audit ini dilakukan oleh perusahaan terhadap pemasok mereka atau sub pemasok. Auditor dapat dari auditor internal maupun auditor eksternal. Management audit dikerjakan untuk menilai status kontrak atau perjanjian yang dibuat perusahaan pemasok atau sub pemasok untuk menentukan keadaan perusahaan atas barang yang akan diterima sesuai dengan yang dibayarkannya.

Baca Juga :  Perjanjian Bongaya – Pengertian, Latar Belakang, Isi, Makna Dan Dampaknya

3. Extrinsic Audit. Management audit ini dilakukan oleh pelanggan atau badan-badan yang berkaitan dengan peraturan atau suatu agen inspeksi. Audit ini meliputi pelanggan dari perusahaan-perusahaan pemasok dan sub pemasok.

Manfaat Audit Manajemen

Berikut dibawah ini merupakan beberapa manfaat dari audit manajemen, yaitu:
1. Mengevaluasi tujuan, kebijakan, sasaran, peraturan, prosedur dari struktur organisasi yang belum ditentukan sebelumnya.
2. Mengevaluasi kriteria pengukuran pencapaian tujuan organisasi dan penilaian prestasi manajemen.
3. Secara independen dan objektif menilai prestasi individual dan kegiatan unit organisasi tertentu.
4. Menilai efisiensi, efektivitas dan kehematan sistem perencanaan dan pengendalian manajemen.
5. Menemukan/mengidentifikasi masalah organisasi yang timbul dan jika mungkin menentukan penyebabnya.
6. Menilai/menyakini reliabilitas dan manfaat berbagai laporan pengendalian manajemen.

Siagian (2001) mengatakan bahwa kalangan manajemen menunjukkan sambutan terhadap perkembangan audit manajemen karena jika digunakan dengan tepat maka audit manajemen bisa memberi manfaat yang besar yaitu:

1. Memungkinkan manajemen mengidentifikasikan kegiatan operasional dalam perusahaan yang tidak memberikan kontribusi dalam perolehan keuntungan.
2. Membantu manajemen dalam peningkatan produktifitas kerja dari berbagai komponen organisasi.
3. Memungkinkan manajemen mengidentifikasi hambatan dan kendala yang dihadapi dalam mengkoordinasikan berbagai kegiatan dan mengambil langkah strategis untuk mengatasi dan menghilangkannya.
4. Memantapkan penerapan pendekatan kesisteman dalam menjalankan roda organisasi.
5. Memungkinkan manajemen pada berbagai tingkat menentukan strategi yang tepat.
6. Membantu manajemen merumuskan pedoman teknis operasional bagi para pelaksana berbagai kegiatan dalam perusahaan yang akan membantu para tenaga kerja operasional melakukan kegiatan masing-masing dengan tingkat efisiensi dan efektifitas yang lebih tinggi.
7. Mengidentifikasikan dengan tepat berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi dalam manajemen sumber daya manusia.
8. Membantu manajemen menilai perilaku bawahan dalam menyediakan informasi bagi pimpinan sesuai dengan kebutuhan pimpinan pada berbagai hierarki perusahaan.

Apabila audit manajemen dilakukan secara berkala maka audit manajemen bisa menunjukkan masalah ketika masalah tersebut masih berskala kecil. Dengan demikian audit manajemen merupakan alat manajemen yang membantu manajemen dalam mencapai tujuan karena tindakan korektif dapat dilakukan untuk pemecahan masalah apabila ditemukan inefisiensi dan inefektifitas.

Karakteristik Audit Manajemen

Berikut beberapa karakteristik audit manajemen yaitu :

1. Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan manajemen adalah membantu semua peringkat manajemen dalam meningkatkan perencanaan dan pengendalian manajemen dengan cara mengidentifikasi aspek-aspek sistem dan prosedur serta rekomendasi kepada manajemen untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan ekonomisasi.

2. Independensi
Agar manfaat pemeriksaan manajemen dapat dicapai, maka pemeriksaan tersebut harus bersifat independen.

3. Pendekatan Sistematis
Dalam perencanaan dan pelaksanaan audit manajemen perlu digunakan pendekatan yang sistematis dan metode-metode yang konsisten.

4. Kriteria Prestasi
Dengan kriteria prestasi pelaksanaan dapat dibandingkan dan dievaluasi.

5. Bukti Pemeriksaan
Auditor harus dapat merencanakan dan melaksanakan prosedur yang dirancang untuk memperoleh bukti yang cukup untuk mendukung temuan-temuan dan kesimpulan-kesimpulan serta rekomendasi yang dibuatnya.

6. Pelaporan dan Rekomendasi
Karakteristik yang membedakan antara audit manajemen dengan jenis audit lainnya adalah terletak pada laporan audit. Dalam audit manajemen , laporan audit menekankan pada temuan-temuan selama pemeriksaan, pembuatan kesimpulan, dan rekomendasi untuk meningkatkan sistem perencanaan dan pengendalian manajemen.

Tahap-tahap Audit Manajemen

Dalam setiap pelaksanaan audit manajemen tentu menggunakan tahaptahap yang sistematis. Tahap-tahap yang biasanya dilakukan dalam audit manajemen, sebagai berikut.

1. Perencanaan
Area dan tujuan audit manajemen umumnya ditentukan oleh manajemen puncak. Setelah mengetahui area dan tujuan audit manajemen maka auditor manajemen kemudian merencanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.

Suatu survei pendahuluan, seperti yang dijelaskan sebelumnya merupakan prosedur umum yang dilakukan auditor untuk mengenal operasi perusahaan yang akan diaudit. Audit dapat menggunakan daftar pertanyaan, flowchart, tanya jawab, laporan manajemen, dan observasi dalam pelaksanaan survei pendahuluan.

Daftar pertanyaan terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan masalah yang mempengaruhi efektivitas, efisiensi, dan ekonomisasi operasi. Auditor, kemudian akan menilai jawaban yang diperoleh dan mengumpulkan bukti-bukti untuk memperkuat jawaban yang diterima.

Untuk membantu auditor dalam memahami arus barang, jasa, dan arus transaksi dalam operasi, auditor dapat menelaah atau menyiapkan flowchart. Pada waktu mempelajari flowchart, auditor akan mencari inefisiensi dan kelemahan pengendalian, seperti adanya duplikasi operasi, formulir yang tidak diperlukan, belum layaknya pemisahan tugas, dan kekurangan pengawasan.

Auditor juga akan menelaah laporan manajemen seperti laporan keuangan, anggaran, laporan produksi, dan laporan penjualan. Hal-hal khusus yang akan menarik perhatian auditor, seperti adanya variansi anggaran (perbedaan antara aktual dengan anggaran), peningkatan biaya, kekurangan persediaan, persediaan yang usang, dan kerusakan produksi. Pada saat melakukan survei pendahuluan, auditor harus mengamati sekelilingnya. Karyawan atau peralatan yang menganggur, aset yang tidak dijaga, seperti kas dan persediaan, lay out pabrik atau kantor yang tidak efisien dapat merupakan area yang potensial untuk diperbaiki untuk meningkatkan efektivitas,efisiensi, dan ekonomisasi.

Baca Juga :  Atlas - Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Unsur-unsur Atlas

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber ini, auditor akan dapat menentukan beberapa kriteria yang objektif untuk menilai operasi. Auditor juga akan dapat merancang suatu audit program yang akan digunakannya untuk mengumpulkan bukti dalam penilaian suatu operasi.

2. Mengumpulkan Bukti-bukti
Tujuan pengumpulan bukti-bukti adalah untuk mendapatkan dasar faktual dalam menilai kriteria kinerja yang sebelumnya telah diidentifikasi. Wawancara merupakan alat penting untuk mendapatkan bukti-bukti selama melakukan audit manajemen. Wawancara harus direncanakan sehingga memungkinkan auditor untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin melalui wawancara. Selama dan setelah selesai wawancara, perlu disiapkan memo untuk mencatat hal-hal penting yang diperoleh dari wawancara. Memo ini akan memperkuat bukti-bukti informasi yang diperoleh melalui wawancara. Auditor akan mengumpulkan bukti yang diperoleh dalam suatu arsip. Bukti dokumentasi ini disebut kertas kerja.

3. Analisis dan Penyelidikan Penyimpangan/Deviasi
Pada saat mengumpulkan bukti-bukti, auditor harus waspada atas deviasi dari kebijakan perusahaan dan kinerja yang tidak efektif dan efisien. Auditor harus membedakan deviasi yang tidak signifikan dengan deviasi yang signifikan. Deviasi yang terjadi di masa lampau, mungkin dapat dikoreksi dan mungkin juga tidak dapat dikoreksi, tetapi yang harus diperhatikan oleh auditor adalah pengaruh dari deviasi tersebut terhadap masa yang akan datang. Analisis dan penyelidikan auditor harus didokumentasikan dalam arsip auditor karena merupakan dasar untuk menentukan tindakan korektif.

4. Menentukan Tindakan Korektif
Setelah melakukan analisis dan penyelidikan suatu deviasi, auditor harus menjawab 2 pertanyaan berikut. a. Tindakan korektif apa yang harus diambil? b. Apakah tindakan korektif yang dapat diterapkan?
Pertanyaan kedua paling sering sulit dijawab karena auditor perlu mempertimbangkan faktor-faktor, seperti hubungan biaya-manfaat, pengaruh terhadap moral karyawan, dan konsistensi dengan kebijakan perusahaan yang lain.

5. Melaporkan Hasil Audit Manajemen dan Tindak Lanjut
Walaupun laporan formal dapat dianggap sebagai langkah terakhir dalam audit manajemen, laporan informal harus dibuat selama melakukan audit. Suatu laporan audit harus berisi laporan tertulis yang menjelaskan temuan audit dan rekomendasi perbaikan untuk mengatasi temuan-temuan tersebut. Auditor manajemen juga harus memonitor tindak lanjut dari rekomendasi yang diberikannya ke manajemen untuk mengetahui apakah rekomendasi tersebut telah dilakukan, dan jika tidak apa alasan dari tidak menerapkan rekomendasi tersebut.

Ruang Lingkup Audit Manajemen

Ruang lingkup audit manajemen meliputi seluruh aspek kegiatan manajemen. Ruang lingkup ini dapat berupa seluruh kegiatan atau dapat juga hanya mencakup bagian tertentu dari program/aktivitas yang dilakukan. Periode audit juga bevariasi, bisa untuk jangka waktu satu minggu, beberapa bulan, satu tahun bahkan untuk beberapa tahun, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Sedangkan yang menjadi sasaran dalam audit manajemen adalah kegiatan, aktivitas, program dan bidang-bidang dalam perusahaan yang diketahui atau diidentifikasi masih memerlukan perbaikan/peningkatan, baik dari segi ekonomisasi, efisiensi, dan efektivitas. Ada 3 (tiga) elemen pokok dalam tujuan audit, antara lain :

1. Kriteria
Kriteria merupakan standar (pedoman,norma) bagi setiap individu/kelompok di dalam perusahaan dalam melakukan aktivitasnya.

2. Penyebab
Penyebab merupakan tindakan yang dilakukan oleh setiap individu/kelompok di dalam perusahaan. Penyebab dapat bersifat positif, program/aktivitas berjalan dengan tingkat efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi, atau sebaliknya bersifat negative, program/aktivitas berjalan dengan tingkat efisiensi dan efektivitas yang lebih rendah dari standar yang telah ditetapkan.

3. Akibat (Effect)
Akibat merupakan perbandingan antara penyebab dengan criteria yang berhubungan dengan penyebab tersebut. Akibat negatif menunjukkan program/aktivitas berjalan dengan tingkat pencapaian yang lebih rendah dari kriteria yang ditetapkan. Sedangkan akibat positif menunjukkan bahwa program/aktivitas telah terslenggara secara baik dengan tingkat pencapaian yang lebih tinggi dari kriteria yang ditetapkan.

 

Demikianlah pembahasan tentang Audit Manajemen dengan ulasan Pengertian, Tujuan, Jenis, Manfaat, Karakteristik, Tahap dan Ruang Lingkup Audit Manajemen. Semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman. Terimah kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.