Elektabilitas – Pengertian, Perbedaan, Hubungan Dan Cara Meningkatkannya

Elektabilitas mulai sering diperbincangkan oleh warganet walaupun pemilu 2024 akan dilaksanakan pada 3 tahun mendatang yang masih cukup jauh. Presiden Indonesia yang sekarang menjabat yakni Presiden Joko Widodo atau yang akrab dikenal sebagai Jokowi tidak termasuk dalam kontes elektabilitas.

Pasalnya, Jokowi telah menjabat selama 2 periode yaitu jumlah periode maksimal yang bisa dijabat oleh seorang presiden.
Sehingga para politisi mulai melakukan kampanye untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas mereka serta mulai menunjukkan wajah mereka ke masyarakat luas baik dengan media massa seperti televisi atau spanduk.
Nah, sebenarnya apa itu elektabilitas? Dan mengapa tingkat elektabilitas ini berperan penting dalam memprediksi calon-calon presiden dengan kemungkinan menang pemilu yang tinggi? untuk penjelasan lebih lengkapnya simak penjelasan dibawah ini mengenai Elektabilitas – Pengertian, Perbedaan, Hubungan Dan Cara Meningkatkannya


Pengertian Elektabilitas

Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan atau ketertarikan publik dalam memilih sesuatu, baik itu seorang figur, lembaga atau partai, maupun barang dan jasa dimana informasi tersebut didapatkan dari hasil berbagai survei.

Menurut Dendy Sugiono “2008” arti elektabilitas ialah ketertarikan seseorang dalam memilih. Secara bahasa istilihan elektabilitas ialah hasil serapan dari Bahasa Inggris yaitu “electability” yang artinya keterpilihan.

Dan pada umumnya untuk meningkatkan elektabilitas sebuah objek “barang, jasa, orang, lembaga” maka objek tersebut harus populer dan memenuhi kriteria keterpilihan, misalnya:

  • Dikenal baik oleh masyarakat luas.
  • Terbukti memiliki kinerja yang baik.
  • Memiliki prestasi di bidang tertentu.
  • Memiliki rekam jejak yang positif di bidangnya.

Perbedaan Eelektabilitas Dan Popularitas

Di masyarakat umum, seringkali elektabilitas disamakan dengan popularitas seseorang. Dalam hal ini kedua istilah tersebut berhubungan namun memiliki pengertian yang berbeda. Popularitas ialah tingkat keterkenalan suatu objek “barang, jasa, seorang figur dan lembaga” di mata masyarakat sedangkan elektabilitas ialah tingkat keterpilihan objek yang dimaksud.
Artinya seseorang yang populer di masyarakat belum tentu memiliki elektabilitas tinggi sehingga layak dipilih. Begitu pun sebaliknya seseorang yang punya elektabilitas mungkin saja tidak dipilih karena tidak populer di mata masyarakat.

Baca Juga :  Pengertian Sastra Menurut Para Ahli

Dalam bidang politik, popularitas seorang figur merupakan modal yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian publik. Popularitas tersebut nantinya akan dapat mendongkrak elektabilitas figur tersebut dengan membangun pencitraan, baik secara langsung di masyarakat maupun melalui berbagai media massa.

Hubungan Kampanye Politik Dan Elektabilitas

Kampanye politik merupakan serangkaian usaha komunikasi secara terencana yang dilakukan sekelompok orang untuk mendapatkan dukungan dari publik. Untuk meningkatkan elektabilitas seseorang umumnya kampanye politik yang dilakukan ialah dengan pencitraan politik.

Dalam hal ini, elektabilitas seorang figur dapat ditingkatkan melalui kegiatan kampanye politik. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua kampanye politik bertujuan untuk meningkatkan elektabilitas seorang figur, ada juga kampanye yang bertujuan untuk menjatuhkan figur lain yang menjadi lawan politik.

Dalam kegiatan kampanye politik, seringkali dilakukan pencitraan dengan tujuan untuk membentuk opini publik mengenai seorang figur yang dingkat. Pencitraan politik ini biasanya dilakukan secara persuasif untuk mendapatkan lebih banyak dukungan dari pemilih.

Dan menurut Corner dan Pels “Nimmo, 2009:8” figur yang bersih maupun figur yang bermasalah, keduanya secara substansial harus berupaya keras membangun citra politik mereka agar dapat meraih dukungan pemilih. Hal ini dikarenakan citra seseorang di masyarakat menjadi faktor yang menentukan dalam kerberhasilan kegiatan kampanye politik.

Cara Meningkatkan Elektabilitas

Salah satu perangkat yang digunakan oleh pemangku kepentingan politik untuk menentukan langkah dalam pemilu adalah hasil survei, terutama yang dilakukan oleh pihak independen. Litbang KOMPAS sebagai lembaga yang tidak berafiliasi dengan partai politik menjadi salah satu lembaga yang hasil surveinya cukup akurat dan menjadi rujukan bagi para pengambil keputusan politik.

Baca Juga :  Bercerita - Pengertian Bercerita Menurut Para Ahli, Jenis, Tujuan, Manfaat, Teknik & Contoh

Menjelang Pilpres 2019, Litbang KOMPAS mengeluarkan hasil survei yang cukup menarik. Survei yang dilakukan oleh Litbang KOMPAS terhadap elektabilitas tokoh-tokoh yang potensial maju dalam Pilpres 2019 menunjukkan hasil bahwa elektabilitas Prabowo Subianto dan Gatot Nurmantyo cenderung menurun. Sebaliknya elektabilitas Joko Widodo terus naik.

Hasil detail survei yang dilakukan pada 21 Maret-1 April 2018 tersebut adalah elektabilitas Prabowo Subianto turun, dari angka 18,2 persen pada 6 bulan lalu sekarang menjadi 14,1 persen. Elektabilitas Joko Widodo naik dari angka 46,3 persen pada 6 bulan lalu sekarang menjadi 55,9 persen. Gatot Nurmantyo mengalami penurunan elektabilitas, yang pada 6 bulan lalu sebesar 3,3 persen, sekarang menjadi 1,8 persen.

Mahasiswa Doktoral bidang Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta mengatakan, ada beberapa usulan langkah yang bisa dilakukan untuk menaikkan elektabilitas.

“Pertama adalah membangun koalisi yang kompak, kuat dan satu suara. Perbedaan suara dalam satu koalisi akan menjadi celah kerawanan yang bisa mengurangi elektabilitas calon yang diusung dan partai politik,” ujarnya di Jakarta, Selasa (24/4/2018).

Langkah kedua, katanya, adalah meyakinkan kepada para pendukung, loyalis, dan masyarakat akan keteguhan tekad dan kemantapan untuk mengikuti Pilpres 2019. Cara meyakinkan ini juga harus logis, dengan menyertakan koalisi partai yang memenuhi syarat untuk maju dalam Pilpres. Selain itu untuk menguatkan langkah ini, calon dan tim suksesnya harus menyampaikan program kerja unggulan guna menandingi program kerja lawan politiknya.

Baca Juga :  BUMS – Pengertian, Fungsi, Tujuan, Kelebihan, Kekurangan, dan Contoh

“Langkah ketiga adalah dengan cara menunjukkan bahwa kapabilitas yang dimilikinya lebih bagus dari lawan politik yang sudah ada. Capres-cawapres dan tim sukses juga harus meyakinkan masyarakat bahwa sumber daya yang dimilikinya mampu untuk menggerakkan mesin politik dalam pertarungan Pilpres 2019,” ujarnya.

Pihak petahana mempunyai keunggulan untuk menggerakkan sumber dayanya melalui program-program pemerintah. Hal ini tentu sangat menguntungkan mengingat ada bukti nyata yang telah dilakukan. Kampanye dapat dilakukan dengan menunjukkan keberhasilan yang sudah dicapai pemerintah. Perbaikan-perbaikan yang sudah dilakukan dibandingkan dengan pemimpin pada era sebelumnya dapat menjadi materi kampanye yang efektif.

Demikianlah pembahasan mengenai Elektabilitas – Pengertian, Perbedaan, Hubungan Dan Cara Meningkatkannya. semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua,, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.