Fidyah Puasa Adalah – Pengertian, Ketentuan dan Siapa saja Golongan yang wajib membayar fidyah puasa.

Pada artikel kali ini lazuare.com akan membahas tentang Fidyah Puasa yang dijelaskan melalui Pengertian, Ketentuan dan Siapa saja Golongan yang wajib membayar fidyah puasa. Untuk lebih dipahami lebih dalam, mari teman-teman simak penlesannya dibawah ini!

Pengertian Fidyah Puasa

Dalam bahasa Arab, fidyah artinya mengganti atau menebus. Berdasarkan istilahnya, fidyah merupakan harta benda yang dalam kadar tertentu, wajib diberikan kepada orang miskin sebagai pengganti ibadah yang ditinggalkan. Pengertian fidyah juga berarti memberikan makan satu orang miskin untuk mengganti satu hari puasa.

Dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 184 Allah berfirman, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Dalam Surat Al-Baqarah, Allah menjelaskan bahwa apabila seorang muslim meninggalkan ibadah puasa, maka wajib menggantinya di hari-hari lain sejumlah yang telah ditinggalkan. Apabila tidak sanggup karena sedang dalam kondisi yang berat untuk mengganti bulan puasa, maka diperbolehkan membayar fidyah. Apa saja yang dikatakan sebagai kondisi berat, sehingga seseorang diperbolehkan membayar fidyah?

Fidyah puasa adalah makanan pokok sejumlah 1 mud (kira-kira 700 gram) yang dibayarkan kepada fakir atau miskin pada hari-hari Ramadhan.

Ketentuan-ketentuan Fidyah Puasa

  1. Berupa makanan pokok, seperti: beras bagi masyarakat Indonesia, dan gandum bagi masyarakat yang makanan pokoknya roti.
  2. Makanan pokok yang dikeluarkan sebanyak 1 mud (kira-kira 7 ons).
  3. Dibayarkan kepada orang fakir atau miskin.
  4. Waktu pembayarannya pada hari-hari di bulan Ramadhan.
Baca Juga :  Majas Sarkasme - Arti, Perbedaan dan Contohnya

Siapa saja Golongan yang Wajib Membayar Fidyah Puasa?

Golongan Pertama: Orang yang mempunyai hutang puasa dan wafat sebelum mengqadha puasanya. Dengan syarat puasa yang ditinggalkan harus dengan uzur syar’i, seperti: sakit, safar, haid, nifas, dsb.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhuma-:

Barangsiapa yang wafat dan memiliki hutang puasa sebulan, hendaklah (dibayarkan untuknya) memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ia tinggalkan” .

Golongan ini terbagi menjadi 2:

  1. Orang yang wafat sebelum sempat mengqadha puasanya; karena uzur yang membolehkan dia tidak berpuasa berlanjut sampai dia wafat. Seperti: orang yang tidak berpuasa karena sakit, dan sakitnya berlanjut setelah bulan Ramadhan sampai dia wafat. Orang yang seperti ini tidak wajib membayar fidyah.
  2. Orang yang mempunya kesempatan mengqada puasanya sebelum dia wafat, tetapi tidak mengqadanya. Seperti: wanita yang tidak berpuasa karena haid, lalu tidak mengqada puasanya pada hari-hari ketika dia suci dari haid, kemudian wafat. Orang yang seperti ini wajib membayar fidyah.

Golongan kedua: orang yang mempunyai hutang puasa, dan tidak mengqadha puasanya sampai masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya.

Golongan ini terbagi menjadi 2:

  1. Orang yang mempunyai hutang puasa, dan tidak mengqadha puasanya sampai masuk bulan Ramadhan tahun berikutnya dikarekan uzur syar’i. Seperti: orang yang tidak berpuasa karena sakit, dan sakitnya berlanjut sampai bulan Ramadhan pada tahun berikutnya. Orang yang seperti ini tidak wajib membayar fidyah.
  2. Orang yang mempunya kesempatan mengqada puasanya sebelum sebelum masuk bulan Ramadhan pada tahun berikutnya, tetapi tidak mengqadanya. Seperti: wanita yang tidak berpuasa karena haid, lalu tidak mengqada puasanya pada hari-hari ketika dia suci dari haid sampai masuk bulan Ramadhan pada tahun berikutnya. Orang yang seperti ini wajib membayar fidyah.
Baca Juga :  Majas Sinekdoke Pars Pro Toto - Pengertian dan Contohnya

Dalilnya adalah atsar yang diriwayatkan dari Abu Hurairah  beliau berkata:

“Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan sedangkan dia dalam kondisi sakit, kemudian sembuh, tetapi tidak mengqadha puasanya sampai masuk Ramadhan berikutnya; maka dia berpuasa untuk Ramadhan ini, lalu mengqadha Ramadhan yang telah lewat, dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ia tinggalkan”.

Golongan ketiga: wanita hamil dan menyusui.

Golongan ini terbagi menjadi 2:

  1. Wanita hamil atau menyusui yang takut apabila berpuasa akan membahayakan dirinya; maka tidak wajib membayar fidyah.
  2. Wanita hamil atau menyusui yang takut apabila berpuasa akan membahayakan janin atau anaknya; maka wajib membayar fidyah.

Dalilnya adalah atsar dari Abdullah bin Umar ketika ditanya tentang wanita hamil apabila takut puasa dapat membahayakan janinnya dan berat baginya, maka beliau menjawab:

“Tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ia tinggalkan” .

Golongan keempat: orang yang menyelamatkan orang lain yang sedang dalam bahaya (seperti: orang yang tenggelam), dan dia tidak bisa menyelamatkan orang tersebut kecuali dalam keadaan tidak berpuasa; maka hukumnya seperti wanita hamil atau menyusui yang takut apabila puasa membahayakan janin atau anaknya: yaitu wajib membayar fidyah.

Perlu diketahui bahwa keempat golongan di atas wajib mengqadha puasa yang mereka tinggalkan.

Golongan kelima: orang tua yang sudah tidak mampu lagi berpuasa, atau orang sakit yang tidak ada harapan sembuh dari penyakitnya (apabila tidak sanggup untuk berpuasa); maka cukup baginya membayar fidyah saja tanpa mengqadha puasa.

Baca Juga :  Amalan Yang Tak Boleh Anda Lewatkan Dalam Ramadhan

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Atho’ bahwasannya dia mendengar Ibnu Abbas  membaca:

{وعلى الذين يُطَوَّقونه فلا يُطِيقونه فدية طعام مسكين}

Artinya: “dan kewajiban orang-orang yang mampu puasa tapi tidak berpuasa adalah membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin”.

Kemudian Ibnu Abbas  berkata: “ayat ini tidaklah mansukh, (tetapi yang dimaksud dengan ayat ini) adalah lelaki tua, dan wanita tua, yang keduanya tidak mampu untuk berpuasa, maka (diwajibkan) memberi makan setiap hari satu orang miskin” .

Wallahu a’lam.

Demikianlah pembahasan tentang Fidyah Puasa yang dijelaskan melalui Pengertian, Ketentuan dan Siapa saja Golongan yang wajib membayar fidyah puasa. Semoga dapat bermanfaat buat teman-teman yang ingin lebih memahami lebih dalam tentang fidyah puasa. Terimah kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.