Infertilitas Adalah – Pengertian, Jenis, Faktor Penyebab, Pencegahan ,Pengobatan dan Penanganan Infertilitas.

Kembali lagi di Lazuare.com dimana akan membahas sebuah artikel tentang Infertilitas yang dimana akan dijelaskan melalui Pengertian, Jenis, Faktor Penyebab, Pencegahan ,Pengobatan dan Penanganan Infertilitas. Berikut penjelasannya dibawah ini!

Pengertian Infertilitas

Infertilitas adalah suatu kondisi dimana kehamilan tidak terjadi pada pasangan yang sudah melakukan hubungan seksual secara rutin dan tanpa pengaman dalam kurun waktu 1 tahun. Setiap pasangan suami istri yang tidak kunjung mendapatkan keturunan pasti mengalami cemas, tidak sedikit suami yang menyalahkan istrinya karena tidak dapat hamil. Namun hal yang perlu diketahui adalah infertilitas tidak hanya disebabkan oleh faktor dari istri.

Faktor dari suami maupun kombinasi keduanya dapat menyebabkan gagalnya terjadi kahamilan. Bagi pasangan suami istri dengan usia istri kurang dari 35 tahun segeralah periksaan diri ke dokter kandungan jika tidak kunjung mendapatkan keturunan pada tahun pertama pernikahan. Namun jika usia istri lebih dari 35 tahun, dalam kurun waktu 6 bulan setelah hubungan seksual yang rutin dan tanpa pengamanan tidak menghasilkan kehamilan, maka segeralah berkonsultasi kepada dokter.

Infertilitas terbagi menjadi 2 yaitu infertilitas primer dan sekunder. Seorang wanita dikatakan mengalami infertilitas primer jika tidak dapat hamil, hamil namun mengalami keguguran, atau yang hamil namun bayinya meninggal duni saat dilahirkan. Infertilitas sekunder terjadi jika wanita tersebut pernah hamil kemudian melahirkan seorang anak yang hidup, namun tidak dapat hamil kembali atau dapat hamil tetapi anaknya meninggal segera setelah dilahirkan.

Pengertian Infertilitas Menurut Para Ahli

  1. Menurut dunia medis Infertilitas adalah istilah yang di gunakan untuk menyebut pasangan yang belum mempunyai anak walaupun sudah berhubungan intim secara teratur tanpa alat kontrasepsi dalam kurun waktu satu tahun (diah, 2012: www.jurnalbidandiah.blogspot.com).
  2. “Infertilitas adalah kegagalan dari pasangan suami-istri untuk mengalami kehamilan setelah melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, selama satu tahun” (Sarwono dalam diah, 2012: www.jurnalbidandiah.blogspot.com).
  3. “Infertilitas (kamandulan) adalah ketidakmampuan atau penurunan kemampuan menghasilkan keturunan” (Elizbeth dalam diah,2012: www.jurnalbidandiah.blogspot. com).
  4. “Ketidaksuburan (infertil) adalah suatu kondisi dimana pasangan suami istri belum mampu memiliki anak walaupun telah melakukan hubungan seksual sebanyak 2—3 kali seminggu dalam kurun waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi jenis apapun” (Djuwantono,2008).
  5. Sedangkan Baradero, dkk (2006) menjelaskan bahwa “Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun.”

Maka dapat disimpulkan bahwa Infertilitas berarti tidak terjadinya fertilisasi (Pembuahan ) pada organ reproduksi wanita, yaitu tidak terjadinya proses peleburan antara satu sel sperma dan satu sel ovum yang sudah matang.

Jenis Infertilitas

Djuwanto, dkk., (2008) mengemukakan bahwa secara medis, infertilitas dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

  1. Infertilitas primer
    Berarti pasangan suami-istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2—3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun.
  2. Infertilitas sekunder
    Berarti pasangan suami-istri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2—3 kali per minggu tanpa menggunakan alat atau metode kontrasepsi dalam bentuk apapun.

Faktor Penyebab Infertilitas

Pada Wanita

  1. Gangguan organ reproduksi
    a. Infeksi vagina menyebabkan meningkatnya keasaman vagina yang akan membunuh sperma, dan pengkerutan vagina akan menghambat transportasi sperma ke vagina.
    b. Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu pengeluaran mukus serviks. Apabila mukus sedikit di serviks, perjalanan sperma ke dalam rahim terganggu. Selain itu, bekas operasi pada serviks yang menyisakan jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke rahim
    c. Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang.
    d. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu.
  2. Gangguan ovulasi
    Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormone FSH dan LH yang memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi. Hambatan ini dapat terjadi karena adanya tumor cranial, stress, dan pengguna obat-obatan yang menyebabkan terjadinya disfungsi hiotalamus dan hipofise. Bila terjadi gangguan sekresi kedua hormone ini, Maka folikel mengalami hambatan untuk matang dan berakhir pada gangguan ovulasi.
  3. Kegagalan implantasi
    Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. Setelah terjadi pembuahan, proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. Akibatnya fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus.
  4. Endometriosis
    Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. Endometriosis bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut juga adenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut. Gejala umum penyakit endometriosis adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim, serta tentu saja infertilitas.
  5. Faktor immunologis
    Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu, maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil.
  6. Lingkungan
    Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas ananstesi, zat kimia, dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan.
Baca Juga :  Enzim Pencernaan - Enzim di Mulut dan di dalam Lambung

Pada Pria

Dari sisi pria, penyebab infertilitas yang paling umum terjadi adalah:

  1. Bentuk dan gerakan sperma yang tidak sempurna
    Sperma harus berbentuk sempurna serta dapat bergerak cepat dan akurat menuju ke telur agar dapat terjadi pembuahan. Bila bentuk dan struktur (morfologi) sperma tidak normal atau gerakannya (motilitas) tidak sempurna sperma tidak dapat mencapai atau menembus sel telur.
  2. Konsentrasi sperma rendah
    Konsentrasi sperma yang normal adalah 20 juta sperma/ml semen atau lebih. Bila 10 juta/ml atau kurang maka menujukkan konsentrasi yang rendah (kurang subur). Hitungan 40 juta sperma/ml atau lebih berarti sangat subur. Jarang sekali ada pria yang sama sekali tidak memproduksi sperma. Kurangnya konsentrasi sperma ini dapat disebabkan oleh testis yang kepanasan (misalnya karena selalu memakai celana ketat), terlalu sering berejakulasi (hiperseks), merokok, alkohol dan kelelahan.
  3. Tidak ada semen
    Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang.
  4. Varikosel (varicocele)
    Varikosel adalah varises atau pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan testis. Sebagaimana diketahui, testis adalah tempat produksi dan penyimpanan sperma. Varises yang disebabkan kerusakan pada sistem katup pembuluh darah tersebut membuat pembuluh darah melebar dan mengumpulkan darah. Akibatnya, fungsi testis memproduksi dan menyalurkan sperma terganggu.
  5. Testis tidak turun
    Testis gagal turun adalah kelainan bawaan sejak lahir, terjadi saat salah satu atau kedua buah pelir tetap berada di perut dan tidak turun ke kantong skrotum. Karena suhu yang lebih tinggi dibandingkan suhu pada skrotum, produksi sperma mungkin terganggu.
  6. Kekurangan hormon testosteron
    Kekurangan hormon ini dapat memengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma.
  7. Kelainan genetik
    Dalam kelainan genetik yang disebut sindroma Klinefelter, seorang pria memiliki dua kromosom X dan satu kromosom Y, bukannya satu X dan satu Y. Hal ini menyebabkan pertumbuhan abnormal pada testis sehingga sedikit atau sama sekali tidak memproduksi sperma. Dalam penyakit Cystic fibrosis, beberapa pria penderitanya tidak dapat mengeluarkan sperma dari testis mereka, meskipun sperma tersedia dalam jumlah yang cukup. Hal ini karena mereka tidak memiliki vas deferens, saluran yang menghubungkan testis dengan saluran ejakulasi.
  8. Infeksi
    Infeksi dapat memengaruhi motilitas sperma untuk sementara. Penyakit menular seksual seperti klamidia dan gonore sering menyebabkan infertilitas karena menyebabkan skar yang memblokir jalannya sperma.
  9. Masalah seksual
    Masalah seksual dapat menyebabkan infertilitas, misalnya disfungsi ereksi, ejakulasi prematur, sakit saat berhubungan (disparunia). Demikian juga dengan penggunaan minyak atau pelumas tertentu yang bersifat toksik terhadap sperma.
  10. Ejakulasi balik
    Hal ini terjadi ketika semen yang dikeluarkan justru berbalik masuk ke kantung kemih, bukannya keluar melalui penis saat terjadi ejakulasi. Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkannya, di antaranya adalah diabetes, pembedahan di kemih, prostat atau uretra, dan pengaruh obat- obatan tertentu.
  11. Sumbatan di epididimis/saluran ejakulasi
    Beberapa pria terlahir dengan sumbatan di daerah testis yang berisi sperma (epididimis) atau saluran ejakulasi. Beberapa pria tidak memiliki pembuluh yang membawa sperma dari testis ke lubang penis.
  12. Lubang kencing yang salah tempat (hipoepispadia)
    Kelainan bawaan ini terjadi saat lubang kencing berada di bagian bawah penis. Bila tidak dioperasi maka sperma dapat kesulitan mencapai serviks.
  13. Antibodi pembunuh sperma
    Antibodi yang membunuh atau melemahkan sperma biasanya terjadi setelah pria menjalani vasektomi. Keberadaan antibodi ini menyulitkannya mendapatkan anak kembali saat vasektomi dicabut.
  14. Pencemaran lingkungan
    Paparan polusi lingkungan dapat mengurangi jumlah sperma dengan efek langsung pada fungsi testis dan sistem hormon. Beberapa bahan kimia yang mempengaruhi produksi sperma antara lain: radikal bebas, pestisida (DDT, aldrin, dieldrin, PCPs, dioxin, furan, dll), bahan kimia plastik, hidrokarbon (etilbenzena, benzena, toluena, dan xilena), dan logam berat seperti timbal, kadmium atau arsenik.
  15. Kanker Testis
    Kanker testis berpengaruh langsung terhadap kemampuan testis memproduksi dan menyimpan sperma. Penyakit ini paling sering terjadi pada pria usia 18 – 32 tahun.
Baca Juga :  Fakta dan Opini - Pengertian, Ciri-ciri, Jenis-jenis, manfaat dan perbedaan fakta dan opini

Pencegahan Infertilitas

  1. Hentikan kebiasaan merokok, mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau minum- minuman beralkohol.
  2. Mengurangi mengkonsumsi minuman berkafein, karena dapat mengganggu kesuburan
  3. Jaga keseimbangan berat badan, jangan terlalu gemuk dan jangan terlalu kurus.
  4. Jangan stress berlebihan.
  5. Periode bulanan tidak teratur, segerahlah konsultasikan dengan dokter ahli.
  6. Jika merasa ada yang tidak beres dengan tubuh atau bagian vital, langsung periksakan ke dokter.

Pengobatan Infertilitas

  1. Pemeriksaan pasangan infertil
    Sekitar 1 dari 5 pasangan akan hamil dalam 1 tahun pertama pernikahan dengan senggama yang normal dan teratur.
  2. Riwayat penyakit dan pemeriksaan
    Pemeriksaan awal dari pasangan infertil mencakup riwayat penyakit, riwayat perkawinan terdahulu dan sekarang pemeriksaan terhadap masing- masing pasangan. Sungguh baik jika pertama kali pasangan diperiksa bersama- sama, karena dokter yang memeriksa akan dapat menilai interaksi mereka, untuk pemeriksaan berikutnya lebih baik dinilai sendiri-sendiri.
  3. Analisis Sperma
    Analisis sperma harus dilakukan pada tahap awal, contoh sperma dikumpulkan dalam plastic atau dalam wadah gelas, tidak boleh pakai karet kondom, kemudian harus dikirim ke laboratorium dalam masa dua jam dari ejakulasi. Tidak adanya semen dalam didalam dua atau lebih contoh semen merupakan indikasi untuk pemeriksaan ulang.
    Tiadanya fruktosa didalam contoh semen menjadi petunjuk tiadanya vesikula dan vasa seminalis yang bersifat congenital, ini menjadi patokan bahwa pemeriksaan fungsi testis berikutnya tidak ada gunanya. Apabila frukosa dalam contoh semen ada, maka perlu dilakukan biopsi testis.
  4. Uji Pasca Senggama (UPS)
    Apabila telah diyakini bahwa analisis spermanya normal, maka UPS bisa dijadwalkan. Ini akan memperlihatkan apakah semen sudah terpancar dengan baik ke puncak vagina selama senggama.

UPS dilakukan sekitar 2-3 hari sebelum perkiraan ovulasi. Pasien diminta dating 2-8 jam setelah senggama normal. Getah servik dihisap dari kanal endoserviks yang pada tahap ini harus banyak dan bening. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop. Jika dijumpai 20 sperma perlapang pandang, harapan untuk kehamilan cukup besar jika 1-20 sperma aktif per lapang pandang. Uji ini harus dilakukan sekurang-kurangnya pada dua keadaan yang terpisah, hasil negative bias disebabkan oleh teknik senggama.

  1. Pembasahan dan Pemantauan Ovulasi
    UPS dapat menyingkirkan sebab infertilitas suami, dan yang sangat penting adalah apakah ovarium secara teratur menghasilkan ova. Riwayat haid dapat memberikan pegangan terhadap hal ini. Ovulasi lebih mungkin terjadi jika siklus haid berlangsung teratur dan dengan jumlah darah haid yang sedang untuk jangka waktu 3-5 hari. Haid yang tak teratur dan sedikit menjadi partanda siklus anovulatorik.

Sebagian wanita merasakan nyeri pada satu sisi fossa illiaka untuk 12-24 jam pada saat ovulasi, dan hal ini mungkin bersamaan atau tanpa disertai pendarahan ringan atau dengan suatu peningkatan limbah vagina. Matalgia prahaid menandakan adanya suatu korpus luteum yang aktif, artinya ovulasi sebelumnya telah terjadi dalam siklus itu.

  1. Uji Pakis
    Di bawah pengaruh estrogen, getah serviks yang dikeringkan pada obyek glass akan mengalami kristalisasi dan menghasilkan suatu pola daun pakis yang cukup khas. Ini terjadi antara hari ke-6 sampai hari ke-22 dari siklus haid dan kemudian akan dihambat oleh progestron. Hambatan ini biasanya akan tampak pada hari ke-23 hingga haid berikutnya. Menetapnya pola pakis setelah hari ke- 23 ini menunjukan bahwa ovulasi tidak terjadi. Darah dan semen juga dapat menghambat pembentukan lukisan pakis itu sehingga hasil yang salah sering dijumpai pada uji ini.
  2. Suhu Basal Badan (SBB)
    Pada beberapa wanita, SBB meningkat selama fase progesterone dari siklus haid. Cara ini juga dapat menentukan apakah telah terjadi ovulasi. SBB diambil setiap hari pada saat terjaga pagi hari, sebelum bangkit dari tempat tidur, ataupun makan dan minum. Nilainya ditandai pada kertas grafik. Jika wanita erovulasigrafik akan memperlihatkan pola bifasik yang khas (tipikal).
Baca Juga :  Epidemiologi - Pengertian, Tujuan,Peran, Manfaat, Metode dan Ruang Lingkup

Meskipun grafik bifasik berarti bahwa ovulasi telah terjadi, suatu grafik monofasik belum memastikan bahwa ovulasi tidak terjadi. SBB bisa dipakai untuk menentukan kemungkinan hari ovulasi, sehingga senggama bias diarahkan sekitar saat itu. Dalam praktek penggunaan SBB tidak selalu mudah untuk dipercaya (seperti umumnya sebagian besar pasien di Negara kita).

  1. Sitologi vagina atau endoserviks
    Epitel dari sepertiga lateral atas dinding vagina memberikan respon yang ada pada hormon ovarium. Pemeriksaan ini dilakukan secara serial. Sekarang telah dikembangkan pemeriksaan dari endoserviks pada fase pasca ovulasi dengan pengambilan tunggal (tanpa serial). Perubahan sitologik dengan melihat indeks kariopiknotik dapat dipakai untuk menentukan ada tidaknya ovulasi.
  2. Biopsi Endometrium
    Biopsi endometrium bias dilakukan secara poliklinis tanpa anastesi, dengan memakai sendok kurret kecil tanpa dilatasi serviks. Saat yang tepat adalah fase sekresi, yaitu 5-7 hari sebelum hari haid berikutnya.
  3. Laparaskopi
    Cara ini memungkinkan visualisasi langsung secara endoskopik baik ovulasi yang baru saja terjadi dengan adanya bintik ovulasi, maupun adanya korpus luteum sebagai hasil ovulasi diwaktu yang lebih dini dari siklus itu.
    (Widyastuti, dkk. 2009)

Penanganan Infertilitas.

  1. Inseminsi Buatan
    Inseminasi adalah suatu teknik untuk membantu spermatozoa pria sampai pada tempat untuk membuahi sel telur wanita dalam organ reproduksi wanita. Pada inseminasi, terdapat beberapa tahapan penting yang baik untuk diketahui oleh setiap pasangan yang akan menjalani teknik tersebut. Antara lain:

a. Pengumpulan sperma pria,
b. Pemisahan spermatozoa dari bahan-bahan lain yang terkandung dalam sperma (isolasi),
c. Penempatan spermatozoa pada zat tertentu yang dapat menjaga kelangsungan hidup spermatozoa sementara di luar tubuh pria (medium),
d. Penyuntikan spermatozoa ke dalam rahim wanita (Intrauterine Insemination: IUI).
(Djuwantono, dkk., 2008)

  1. Fertilisasi In Vitro (FIV)
    FIV (Fertilisasi = pembuahan sel telur oleh spermatozoa; In vitro = di luar tubuh) atau dalam masyarakat dikenal dengan istilah “bayi tabung” merupakan salah satu jalan keluar bagi pasangan suami istri yang belum memiliki anak. Pada teknik ini, sel telur matang yang dihasilkan akan dipertemukan dengan spermatozoa dalam suatu wadah berisi cairan khusus di laboratorium.

Cairan yang digunakan untuk merendam serupa dengan cairan yang terdapat pada tuba wanita dengan tujuan untuk membuat suasana pertemuan antara sel telur matang dan spermatozoa senormal mungkin. Dengan demikian, keaktifan gerak spermatozoa dan kondisi optimal sel telur dapat terjaga.

Proses-proses utama dalam fertilisasi in vitro:

  1. Pengambilan sel telur matang dan spermatozoa oleh dokter ahli untuk kemudian ditempatkan pada sebuah tabung khusus yang steril.
  2. Proses fertilisasi sel telur oleh spermatozoa dalam sebuah cawan khusus di laboratorium. Embrio yang dihasilkan akan ditumbuhkan hingga cukup usia (pada umumnya 2—3 hari).
  3. Embrio yang telah siap (sekitar 2—3 hari pascafertilisasi) ditanamkan kembali ke dalam rahim sang ibu oleh dokter ahli. Embrio tersebut diharapkan terus tumbuh dan barkembang hingga menjadi bayi yang pada akhirnya dilahirkan oleh sang ibu.

Demikian pembahasan kali ini tentang Infertilitas yang dijabarkan melalui Pengertian, Jenis, Faktor Penyebab, Pencegahan ,Pengobatan dan Penanganan Infertilitas. Semoga dapat bermanfaat buat teman-teman. Terimah kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.