Motivasi – Teori, Tujuan, Faktor, Proses, Jenis & Komponen

Motivasi – Teori, Tujuan, Faktor, Proses, Jenis & Komponen – Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini motivasi berasal dari kata motif yang berarti “dorongan” atau rangsangan atau “daya penggerak” yang ada dalam diri seseorang. Nah untuk lebih jelasnya silahkan simak penjelasan dibawah ini

Teori Motivasi

Berikut ini terdapat beberapa teori motivasi, terdiri atas:

Teori kebutuhan (Need Theory)

terdiri dari :

Teori Hierarki Kebutuhan

Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :

  • Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex
  • Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual
  • Kebutuhan akan kasih sayang (love needs)
  • Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
  • Aktualisasi diri (self actualization), setiap orang memiliki potensi-potensi tertentu dan biasanya potensi tersebut cenderung ditransformasikan hingga tercapai prestasi melalui perilaku yang tepat. Menurut Maslow, ”What a man can be, he must be.”
  • Secara analogi, istilah “hierarki” berarti anak tangga. Saat kita menaiki suatu tangga, kita akan mulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua (dalam hal ini rasa aman) sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasannya sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.

Namun pemuasan kebutuhan dengan urutan yang telah dikemukakan bukanlah suatu kejadian tunggal yang unik. Justru ia bersifat siklis. Seseorang yang kebutuhan pangannya telah terpenuhi, akan berusaha memenuhi kebutuhannya akan rasa aman. Tetapi pada akhirnya, ia akan merasa lapar lagi yang mengingatkannya pada kebutuhan pangan.

Selain itu ada juga orang yang makan karena lapar, tetapi ia sekaligus dapat memenuhi kebutuhannya akan kasih sayang atau sosial dengan makan bersama sekelompok orang.

Dalam hal ini, walaupun secara teori berbagai kebutuhan telah didiferensiasikan, perilaku nyata menunjukkan adanya lebih dari satu macam kebutuhan.

Teori ERG

Teori ERG dikembangkan oleh Clayton Alderfer. ERG merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu :

  • E = Existence (kebutuhan akan eksistensi),
  • R = Relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain, dan
  • G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan).

Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Pada teori ERG :

  • Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya
  • Apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan maka keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi semakin kuat.
  • Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang lebih mendasar.
  • Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.

Teori Tiga Kebutuhan

Teori yang dikembangkan oleh Atkinson dan David McClelland ini meliputi :

  1. Achievement Motive (nAch): Motif untuk berprestasi
  2. Affiliation Motive (nAff): Motif untuk bersahabat.
  3. Power Motive (nPow) : Motif untuk berkuasa

Teori Dua Faktor

Teori yang dikembangkan Frederich Herzberg sebagai Model Dua Faktor dari motivasi terdiri dari :

Faktor Motivasional
Faktor motivasional merupakan hal-hal yang mendorong untuk berprestasi dan dorongan tersebut bersifat intrinsik atau bersumber dari dalam diri seseorang.

Yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain.

Faktor Hygiene (pemeliharaan)
Faktor hygiene merupakan faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik, artinya bersumber dari luar diri seseorang yang turut menentukan perilaku dalam kehidupan oragn tersebut.

Faktor-faktor hygiene mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, gaji atau upah yang layak, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi dan kondisi pekerjaan.

Teori penetapan tujuan (Goal Setting Theory)

Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :

  • Tujuan-tujuan mengarahkan perhatian
  • Tujuan-tujuan mengatur upaya
  • Tujuan-tujuan meningkatkan persistensi
  • Tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.

Teori Penguatan (Reinforcement Theory)

Pemikiran B.F. Skinner mengenai teori ini didasarkan atas “hukum pengaruh”, dimana manusia cenderung untuk mengulangi tindakan yang mempunyai konsekuensi yang menguntungkan dirinya dan mengelak dari tindakan yang mengakibatkan konsekuensi yang merugikan.

Sebagai contoh, ada seekor burung dara yang lapar. jika ia mematuk-matuk lingkungan sekitarnya, ia akan mendapatkan imbalan, dalam arti bahwa burung dara tersebut mendapatkan makanannya. Akhirnya setiap kali ia lapar, ia akan selalu mematuk lingkungan sekitarnya.

Baca Juga :  Efek Rumah Kaca - Pengertian, Penyebab, Proses, Dampak dan Cara Mengatasinya

Sebaliknya jika burung dara tersebut hanya berdiam diri menunggu makanan datang, besar kemungkinan tidak akan ada makanan yang datang padanya (tidak ada imbalan) dan lama-lama tubuhnya semakin lemah. Hal tersebut tentu merugikan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia akan berusaha mematuk lingkungan sekitarnya agar mendapatkan makanan. Tindakan tersebut dianggap “diperkuat” (Reinforced) dan burung dara tersebut belajar untuk membedakan antara perilaku yang mendapat imbalan dan perilaku yang tidak mendapat imbalan (merugikan).

Teori Keadilan (Equity Theory)

Teori hasil pemikiran S. Adams ini berpandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Sebagai ilustrasi, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa gaji yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :

Seorang akan berusaha memperoleh gaji/imbalan yang lebih besar, atau
Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :

  • Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya
  • Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri
  • Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis
  • Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
  • Apabila sampai terjadi perspektif ketidakadilan maka akan timbul berbagai dampak negatif, seperti ketidakpuasan, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.

Teori Pengharapan (Expectancy Theory)

Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” menyatakan teori harapan yang berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.

Selain lima teori kontemporer diatas, masih banyak lagi teori-teori motivasi. Diantaranya yaitu :

Teori-teori Behavioral :

  • Clark Hull, mengemukakan Drive Reduction Theory pada tahun 1943, yang menyatakan bahwa yang terpenting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia adalah kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis. Suatu kebutuhan biologis pada makhluk hidup menghasilkan suatu dorongan (drive) untuk melakukan aktivitas memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa makhluk hidup ini akan melakukan respon berupa reduksi kebutuhan (need reduction response).
  • Pada periode 1935 – 1960, Kurt Lewin mengajukan Field Theory yang dipengaruhi oleh prinsip dasar psikologi Gestalt. Lewin menyatakan bahwa perilaku ditentukan baik oleh manusia maupun oleh lingkungan. Menurut Lewin, besar gaya motivasional pada seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang sesuai dengan lingkungannya ditentukan oleh tiga faktor:
  1. Tension atau besar kecilnya kebutuhan
  2. Valensi atau sifat objek tujuan
  3. Jarak psikologis orang tersebut dari tujuan. Semakin dekat seseorang dengan tujuannya, semakin besar gaya motivasinya. Sebagai contoh, seorang pelari yang sudah kelelahan melakukan sprint ketika ia melihat atau mendekati garis finish, semangatnya muncul lagi untuk lebih cepat berlari.

Teori-teori Cognitive :

Pada tahun 1957 Leon Festinger mengajukan Cognitive Dissonance Theory. Istilah tersebut berhubungan dengan persepsi serta evaluasi (kognisi) dua unit informasi atau lebih yang bertentangan atau tidak bersifat harmonis (disonan). Jika terdapat ketidakcocokan antar unit informasi tersebut maka kita akan bereaksi untuk menyelesaikan konflik dan ketidakcocokan ini.

Teori-teori Psychoanalytic

Salah satu teori yang sangat terkenal dalam kelompok teori ini adalah Psychoanalytic Theory atau Psychosexual Theory yang dikemukakan oleh Freud (1856 – 1939). Model tentang motivasi menurut Freud terdiri dari tiga bagian :

  • ID yaitu dorongan-dorongan yang tak terkendali
  • Ego yaitu prinsip realitas yang mempengaruhi dorongan-dorongan tersebut dalam pengalaman hidup yang nyata
  • Superego (hati nurani) yaitu yang mengendalikan kedua macam mekanisme tersebut

Freud menitikberatkan teorinya pada persoalan seks yang kemudian dimodifikasi oleh para pengikutnya.

  • Erik Erikson yang merupakan murid Freud menentang pendapat Freud. Erik menyatakan dalam Theory of Socioemotional Development atau Psychosocial Theory bahwa yang paling mendorong perilaku manusia dan pengembangan pribadi adalah interaksi sosial.
  • Teori-teori Social Learning
  • Social Learning Theory (1954) yang diajukan oleh Julian Rotter menaruh perhatian pada apa yang dipilih seseorang ketika dihadapkan pada sejumlah alternatif bagaimana akan bertindak. Untuk menjelaskan pilihan, atau arah tindakan, Rotter mencoba menggabungkan dua pendekatan utama dalam psikologi, yaitu pendekatan stimulus-response atau reinforcement dan pendekatan cognitive atau field. Menurut Rotter, motivasi merupakan fungsi dari harapan dan nilai reinforcement.
Baca Juga :  Syirik adalah – Pengertian, Hukum, Macam, Akibat, Hikmah & Contoh

Teori Social Cognition

Tokoh dari Social Cognition Theory adalah Albert Bandura. Melalui berbagai eksperimen, Bandura dapat menunjukkan bahwa penerapan konsekuensi tidak diperlukan agar pembelajaran terjadi. Pembelajaran dapat terjadi melalui proses sederhana dengan mengamati aktivitas orang lain. Bandura menyimpulkan penemuannya dalam pola empat langkah yang mengkombinasikan pandangan kognitif dan pandangan belajar operan, yaitu:

  • Attention, memperhatikan dari lingkungan
  • Retention, mengingat apa yang pernah dilihat atau diperoleh
  • Reproduction, melakukan sesuatu dengan cara meniru dari apa yang dilihat
  • Motivation, lingkungan memberikan konsekuensi yang mengubah kemungkinan perilaku yang akan muncul lagi (reinforcement and punishment).

Teori Curiosity Berlyne

Pada tahun 1960 Berlyne mengemukakan sebuah Teori tentang Curiosity atau rasa ingin tahu. Menurut Berlyne, ketidakpastian muncul ketika kita mengalami sesuatu yang baru, mengejutkan, tidak layak, atau kompleks. Ini akan menimbulkan rangsangan yang tinggi dalam sistem syaraf pusat kita. Respon manusia ketika menghadapi suatu ketidakpastian inilah yang disebut dengan curiosity atau rasa ingin tahu. Curiosity akan mengarahkan manusia kepada perilaku yang berusaha mengurangi ketidakpastian.

Tujuan Motivasi

Berikut ini terdapat beberapa tujuan motivasi, terdiri atas:

  • Meningkatkan moral dan kepuasan kerja.
  • Meningkatkan produktivitas kerja.
  • Mempertahankan kestabilan kerja.
  • Meningkatkan disiplin kerja.
  • Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
  • Meningkatkan loyalitas, kreativitas dan partisipasi.
  • Meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai.
  • Mempertinggi rasa tanggung jawab terhadap tugasnya.
  • Meningkatkan efisiensi penggunaan alat dan bahan.

Faktor yang Mempengaruhi Motivasi

Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Berbagai Faktor Motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor Internal yaitu adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu, terdiri atas:
  • Persepsi individu mengenai diri sendiri; seseorang termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi. Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak;
  • Harga diri dan prestasi; faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu (memotivasi) untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan memperoleh kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam lingkungan masyarakat; serta dapat mendorong individu untuk berprestasi;.
  • Harapan; adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini merupakan informasi objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perasaan subjektif seseorang. Harapan merupakan tujuan dari perilaku.
  • Kepuasan kerja; lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul dalam diri individu untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan dari suatu perilaku.
  • Kebutuhan; manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya sendiri yang berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya secara total. Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang untuk mencari atau menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang dialaminya.
  1. Faktor Eksternal; faktor yang berasal dari luar diri individu, terdiri atas:
  • Jenis dan sifat pekerjaan; dorongan untuk bekerja pada jenis dan sifat pekerjaan tertentu sesuai dengan objek pekerjaan yang tersedia akan mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau pilihan pekerjaan yang akan ditekuni. Kondisi ini juga dapat dipengartuhi oleh sejauh mana nilai imbalan yang dimiliki oleh objek pekerjaan dimaksud;
  • Kelompok kerja dimana individu bergabung; kelompok kerja atau organisasi tempat dimana individu bergabung dapat mendorong atau mengarahkan perilaku individu dalam mencapai suatu tujuan perilaku tertentu; peranan kelompok atau organisasi ini dapat membantu individu mendapatkan kebutuhan akan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan serta dapat memberikan arti bagi individu sehubungan dengan kiprahnya dalam kehidupan sosial.
  • Situasi lingkungan pada umumnya; setiap individu terdorong untuk berhubungan dengan rasa mampunya dalam melakukan interaksi secara efektif dengan lingkungannya;
  • Sistem imbalan yang diterima; imbalan merupakan karakteristik atau kualitas dari objek pemuas yang dibutuhkan oleh seseorang yang dapat mempengaruhi motivasi atau dapat mengubah arah tingkah laku dari satu objek ke objek lain yang mempunyai nilai imbalan yang lebih besar. Sistem pemberian imbalan dapat mendorong individu untuk berperilaku dalam mencapai tujuan; perilaku dipandang sebagai tujuan, sehingga ketika tujuan tercapai maka akan timbul imbalan.

Proses Motivasi

Wahjosumidjo (1992) menjelaskan bahwa motivasi memilik dua sisi unik. Disatu sisi, motivasi dipandang sebagai sesuatu yang penting, namun disisi lain motivasi juga dirasakan sebagai sesuatu yang sulit. Disebut sebagai sesuatu yang penting (important subject) seperti contoh dalam lingkup kerja ada kaitannya dengan bawahan, seorang pemimpin tidak bisa tidak harus bekerja sama dengan bawahannya atau melalui orang lain.

Baca Juga :  Program Kerja – Pengertian, Tujuan, Manfaat, Jenis dan Tahapan

Karena itulah diperlukan kemampuan untuk memberikan motivasi kepada bawhannya. Selanjutnya, disebut sebagai sesuatu yang yang sulit ( puzzling subject) karena motivasi itu sendiri tidak dapat diamati dan diukur secara pasti.bila kita ingin mengamati dan mengukur motivasi, itu artinya kita harus mengkaji lebih jauh mengenai perilakusetiap bawahan.

Semakin jelas bahwa motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan interakasi atau hubungan antara sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan yang ada dalam diri seseorang. Motivasi sebagai suatu proses psikologis tersebut muncul karena dua faktor, yaitu faktor yang ada dalam diri individu itu sendiri (intrinsik) dan faktor yang ada di luar diri individu (ekstrinsik), faktor yang ada dalam diri individu dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman, pendidikan, dan berbagai harapan individu. Sedangkan faktor yang ada di luar individu dapat berupa pengaruh pimpinan,kolega,dan berbagai hal yang sangat kompleks. Proses tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut ini :

Proses Motivisi

Penjelasan pada setiap nomor dari bagan tersebut di atas adalah :

  • Stimulus atau rangsangan, yaitu sesuatu yang menimbulkan dorongan bagi diri seseorang. Misalnya, keinginan untuk menikah, kuliah atau bekerja ke luar negari. Rangsangan tersebut merupakan faktor yang ada di luar diri individu.
  • Individu dengan suatu dorongan, yaitu keadaan atau situasi dimana individu memilik keinginan atau terdorong olrh sesuatu. Dalam hal ini, misalnya di dorong atau dirangsang oleh stimulus berupa keinginan untukn bekerja ke luar negeri.
  • Selanjutnya keinginan individu untuk bekerja keluar negeri tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor intrinsik atau suatu yang ada didalam diri individu. Misalnya faktor kepribadian
  • kepribadian , nilai-nilai yang diyakini, kedudukan, pengalaman, harapan dimasa depan dan lain sebagainya.
  • Selain didorong oleh faktor-faktor instrinsik, keinginan untuk bekerja di luar negeri tersebut juga dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik atau sesuatu yang ada di luar diri individu. Misalnya permintaan orang tua, atasan di tempat kerja, dan sebagaianya.
  • Kedua faktor yang mempengaruhi keinginan untuk belajar di luar negeri tersenbut (intrinsik dan ekstrinsik) selanjutnya menimbulkan sejumlah alternatif yang harus dipilih oleh seseorang. misalnya, keinginan untuk belajar di luar negeri tersebut dapat diwujudkan dengan menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Australia, Jepang, Jerman. Juga dengan program studi yang di pilih dapat beragam.
  • Selanjutnya setelah sejumlah alternatif tersebut dipertimbangkan, ditentukanlah satu pilihan yang dianggap tepat dan sesuai dengan kondisi seseorang.
  • Setelah pilihan ditentukan dengan berbagai pertimbangan, akhirnya sampai pada tahap bentuk perilaku sebagai hasil dari pengambilan keputusan. Perilaku tersebut merupakan perwujudan dari suatu dorongan karena sadanya motivasi dalam mencapai sesuatu yang diinginkan.

Jenis-Jenis Motivasi

Berikut ini terdapat beberapa jenis-jenis motivasi, terdiri atas:

Motivasi Kuat
Motivasi dikatakan kuat apabila dalam diri seseorang dalam kegiatan – kegiatan sehari – hari memiliki harapan yang positif, mempunyai harapan yang tinggi, dan memiliki keyakinan yang tinggi bahwa semua akan mudah dalam melakukan aktivitasnya berkaitan dengan persoalan – persoalan yang dihadapi.

Motivasi Sedang
Motivasi dikatakan sedang apabila dalam diri manusia memiliki keinginan yang positive, mempunyai harapan yang tinggi, namun memiliki keyakinan yang rendah bahwa dirinya dapat bersosialisasi dan mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Motivasi Lemah
Motivasi dikatakan lemah apabila dalam diri manusia memiliki harapan dan kayakinan yang rendah, bahwa dirinya dapat berprestasi. Misalnya bagi seseorang dorongan dan keinginan mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru merupakan mutu kehidupanya maupun mengisi waktu luangnya agar lebih produktif dan berguna (Suparyanto, 2010).

Komponen Motivasi

Berikut ini terdapat beberapa komponen motivasi, terdiri atas:

Keinginan (valency)
Valence juga dapat difinisikan setiap hasil mempunyai nilai atau daya tarik bagi orang tertentu.

Keyakinan (Outcome expentancy)
Outcome expentanc berarti setiap individu percaya bahwa individu berperilaku dengan cara tertentu dan akan memperoleh hal tertentu.

Harapan (Effort Expentancy)
Effort Expentancy berarti setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenahi seberapa sulit mencapai hasil tersebut (Sobur, 2009).

Demikianlah pembahasan mengenai Motivasi – Teori, Tujuan, Faktor, Proses, Jenis & Komponen. semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.