Seni Kriya Cetak Saring (Sablon) – Pengertian, Sejarah, Alat, Bahan, Tahapan, Cara Kerja, Proses & Contoh Gambar Sablon.

Untuk kali ini Lazuare.com akan membahas tentang Seni Kriya Cetak Saring (Sablon) yang dimana dimana dijelaskan melalui Pengertian, Sejarah, Alat, Bahan, Tahapan, Cara Kerja, Proses & Contoh Gambar Sablon. Agar teman-teman bisa lebih memahami secara lengkap berikut ulasannya dibawah ini!

Seni cetak mencetak dengan alat screen yang sering disebut dengan istilah menyablon, sudah lama dikenal orang. Sejak dahulu di Indonesia orang juga telah mengenal ataupun mempraktekkan teknik
ini. Akan tetapi akhir-akhir ini teknik sablon makin sering dilakukan orang, karena adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Banyak industri yang merasakan betapa berat dan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk mencetak dengan menggunakan mesin cetak. Maka dari itu, orang mulai mengalihkan perhatiannya kearah cetakmencetak dengan alat screen. Teknik cetak mencetak dengan screen ini dapat digunakan sebagai alternatif pencetakkan offset.

Pada umumnya cetak mencetak dilakukan pada setiap benda padat yang datar tetapi dapat juga dilakukan di atas bentuk yang melingkar. Pada prinsipnya cetak mencetak pada berbagai macam benda padat adalah sama. Perbedaannya terletak pada jenis cat / tinta yang digunakan dan jenis produk yang akan dicetak.

Pengertian Seni Kriya Cetak Saring/Sablon

Seni Kriya Cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (screen) dengan kerapatan tertentu dan biasanya barbahandasar Nylon atau sutra. Layar ini lalu diberi pola yang berasal dari negatif desainyang dibuat sebelumnya. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkanlayar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, akanterbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak

Cetak saring atau teknik sablon adalah salah satu bagian dari ilmu grafika terapan yang bersifat praktis. Teknik sablon dilakukan untuk mencetak berbagai media iklan visual seperti, kertas, kain, plat dan media yang lain yang tidak mengandung air. Cetak sablon digunakan untuk melakukan reproduksi desain, seperti kartu nama, kartu undangan, T’shirt, stiker dan lain-lain.

Cetak sablon merupakan proses stensil untuk memindahkan suatu citra ke atas berbagai jenis media atau bahan cetak seperti : kertas, kayu, metal, kaca, kain, plastik, kulit, dan lain-lain. Wujud yang paling sederhana dari stensil terbuat dari bahan kertas atau logam yang dilubangi untuk merproduksi atau menghasilkan kembali gambar maupun hasil dari suatu rancangan desain.

Stensil tersebut selanjutnya merupakan gambaran negatif dari gambar asli atau original dimana detail-detail gambar yang direproduksi memiliki tingkat keterbatasan terutama bila mereproduksi detail-detail yang halus. Pada teknik cetak sablon acuan yang berupa stensil dapat juga melalui tahapan fotografi, yang pada umumnya dikenal dengan istilah film hand cut.

Bagian yang digunakan selama proses penyablonan berlangsung. Adakalanya para perancang grafis melakukan tahapan desain secara langsung pada permukaan alat penyaring dengan bahan yang disebut “tusche” dan kemudian menutup keseluruhan sablonan dengan lem. Tusche selanjutnya dicuci dengan bahan pelarut agar diperoleh bagian yang dapat mengalirkan tinta pada permukaan alat penyaring.

Sejarah Cetak Saring (Sablon)

Menurut sejarah cetak mencetak Tsa`ai Lun adalah seorang penemu pembuatan kertas di Cina dianggap juga sebagai penemu cara-cara mencetak (block printing) pertama kali di dunia pada tahun 105. Tsa`ai Lun mengukir suatu objek sebilah kayu, memberinya zat warna di bagian yang timbul pada ukiran kayu tersebut dan memindahkan gambar ke kertas. Inilah prinsip cetak mencetak pertama kali di dunia. Pada ratusan tahun berikutnya sekitar tahun 1045. Sheng membuat berbagai jenis objek pada tanah liat. Di mana setiap objek di buat pada sekeping tanah liat. Dengan rangkaian kepingan tanaha liat disusun suatu objek baru dan digunakan untuk cetak mencetak. Selanjutnya teknik ini dikembangkan dengan mengukir setiap objek pada sebilah kayu sehingga cetakan dapat dilakukan dengan mudah. Inilah sejarah awal mula cikal bakal percetakan yang dilakukan dengan menggunakan huruf-huruf yang digabung-gabung menjadi suatu kata seperti sekarang ini.

Menengok sejarah cetak saring atau cetak sablon telah lama juga dikenal dan digunakan oleh bangsa Jepang sejak tahun 1664, abad ke-17. Ketika itu, Yuzensai Miyasaki dan Zisukeo Mirose mengembangkannya dengan menyablon kain kimono beraneka motif yang sebelumnya motif kimono dibuat dengan tulis tangan. Ternyata lebih menekan biaya sehingga kimono motif sablon mulai banyak digunakan oleh masyarakat Jepang. Sejak itu, teknik cetak saring terus berkembang dan merambah ke berbagai negara. Pada tahun 1907, pria berkebangsaan Inggris, Samuel Simon, mengembangkan teknik sablon menggunakan chiffon sebagai pola untuk mencetak. Chiffon merupakan bahan rajut yang terbuat dari benang sutera halus. Bahan rajut inilah yang merupakan cikal bakal kain gasa untuk menyablon. Menyablon dengan chiffon caranya tinta yang akan dicetak dialirkan melalui kain gasa atau kain saring, sehingga teknik ini juga disebut silk screen printing yang berarti mencetak dengan menggunakan kain saring sutera. Setelah Perang Dunia II, teknik cetak saring terus berkembang pesat, inovasi-inovasi terus dilakukan sehingga munculah teknik-teknik baru, yang semula membuat motif secara sederhana kemudian berkembang dengan digunakannya komputer untuk membuat motif yang lebih bervariasi.

Baca Juga :  Sistem Operasi - Pengertian, Jenis-jenis, Sistem Operasi dan Contoh

Istilah cetak saring di Indonesia lebih populer dengan sebutan cetak sablon. Kata sablon berasal dari bahasa Belanda, yaitu Schablon, sehingga dalam bahasa serapan menjadi sablon (Guntur Nusantara,2007: 2). Sablon dapat didefinisikan sebagai pola berdesain yang dapat dilukis berdasarkan contoh. Cetak sablon adalah mencetak dengan menggunakan model cetakan atau mal. Cetak saring adalah mencetak dengan menggunakan kain gasa yang dibingkai disebut screen. Proses Pembuatan Cetak saring bisa dilakukan dengan mesin seperti yang dilakukan pada pabrik printing dan bisa dilakukan secara manual seperti yang dilakukan oleh home Industry menengah dan kecil.

Alat Cetak Saring/Sablon

Berikut ini terdapat beberapa alat cetak saring, terdiri atas:

1. Screen
Terdiri dari kerangka kayu dan monyl atau kain sutera yang digunakan untuk mencetak gambar pada benda yang akan disablon. Kain ini berpori-pori dan bertekstur sangat halus menyerupai kain sutera.
Lubang pori-pori pada screen ini berfungsi menyaring dan menentukan jumlah zat warna yang keluar. Ada bermacam-macam jenis kain screen, jenis kain screen terbagi atas kualitas, bahan dasar serat, warna dan
besar kecilnya lubang.

Ukuran Kain Screen dan Fungsinya
10 – 25 Kasar Kain, kertas,
keramik, kertas
daur ulang
Gliter & Binder Metalik
Gliter & lem stiker
46 – 43 Blok Kain Prade, Binder Metalik
Batik Printing, Rubber
49 Blok,tulisan,
gambar
Kain Extender, Orien pasta,
Rubber, Foaming, batik
55 Garis, tulisan,
gambar

2. Rakel: alat yang digunakan untuk menyaput zat warna ke atas permukaan kain atau media cetak. Terbuat dari karet yang dijepit pada kayu atau alumunium. Ada 5 jenis rakel: rakel tumpul, bulat, lancip, miring dan persegi.
3. Meja afdruk: Proses afdruk selain menggunakan sinar matahari dapat juga dilakukan dengan menggunakan meja yang dilengkapi dengan lampu neon / TL untuk hemat energi (terutama digunakan apabila cuaca mendung atau hujan). Lama waktu penyinaran apabila menggunakan lampu neon 6x 20 watt, jarak 20 cm – penyinaran 4 menit atau waktu menyesuaikan dengan jenis film diapositif yang akan diafdruk.
4. Meja gambar: digunakan untuk membuat desain motif untuk cetak saring dan untuk memindah gambar ke kodatrace.
5. Kodatrace: digunakan sebagai film diapositif yaitu untuk memisah motif tiap warna sebelum diafdruk.
6. Rapido: alat untuk membuat motif/gambar pada kodatrace dengan menggunakan tinta rapido.
7. Hair dryer: untuk mengeringkan screen setelah diolesi obat peka cahaya dan mengeringkan hasil cetakan pada kain.
8. Hand sprayer: alat penyemprot untuk membuat lubang screen setelah proses penyinaran dan untuk membersihkan screen setelah penyablonan. Hand sprayer dilengkapi dengan selang plastik yang dihubungkan pada kran air.
9. Meja sablon: meja untuk menyablon kaos atau lembaran yang ukurannya kecil, dilengkapi dengan klem penjepitdan dapat diputar, cukup untuk empat
10. Seterika: alat untuk merapikan bahansebelum di sablon dan sesudah di sablon.
11. Alat press: digunakan sebagai alat fiksasi / penguat warna setelah proses dengan pemanasan dan memberi tekanan sehingga binder menguap dan zat warna menempel kuat ke bahan.
12. Timbangan: alat untuk menimbang zat warna dan pengental untuk membuat pasta warna.
13. Gelas ukur, mangkok dan gelas plastik: gelas ukur digunakan untuk mengukur kebutuhan pelarut/air, mangkuk digunakan sebagai tempat untuk mencampur pasta warna sablon.
14. Sendok, pengaduk & solet: sendok, solet dan pengaduk digunakan untuk mencampur pasta warna supaya rata dan menuangkannya ke permukaan screen.
15. Kuas: alat untuk memoles tinta pada kodatrace, untuk mentusir apabila ada kebocoran pada screen dan menggambar langsung pada kain.
16. Penggaris: alat untuk menggambar dan menentukan posisi gambar pada desain dan media sablon.
17. Papan landasan: papan landasan terdiri dari Triplek sebagai penyangga screen pada waktu afdruk, sedangkan papan yang dilapisi busa dan blanket dilapisi perekat / lem kain (Hidronal G). dan sebagai papan landasan pada penyablonan T-Shirt atau kain yang ukurannya sesuai.
18. Kain hitam: untuk menutup gambar pada screen sebelum waktu penyinaran dengan matahari atau penutup screen pada waktu penyinaran menggunakan lampu supaya tidak tembus bayangan motif.
19. Isolasi bening/transparan: untuk merekatkan kodatrace atau kertas motif pada saat afdruk supaya tidak
geser, untuk menutup bagian tepi screen sebelum penyablonan supaya tidak bocor.
20. Karet busa 5 cm: untuk menyangga bagian dalam screen pada waktu afdruk supaya permukaan screen datar.
21. Kaca bening 2 mm: untuk menutup dan menekan kodatrace pada waktu penyinaran dengan sinar matahari atau pada meja afdruk dengan lampu.
22. Gunting dan cutter: balat pemotong kodatrace, kain, isolasi, lakban. Atau pembuat lubang motif pada kertas pada cetak saring tanpa kodatrace.
23. Baju kerja: pakaian pelindung badan dari kotoran warna, bahan kimia dan bahan berbahaya lainnya.
24. Masker: alat penutup hidung pada waktu mencampur obat peka cahaya atau mencuci screen.

Baca Juga :  Dataran Tinggi - Pengertian, Ciri-ciri, Manfaat, jenis-jenis dan contoh

Bahan Cetak Saring/Sablon

Berikut ini terdapat beberapa bahan-bahan yang diperlukan dalam cetak saring, terdiri atas:
1. Diazol afdruk + sensitizer (untuk bahan pengafdrukan)
2. Diazol remover (bahan untuk menghapus gambar pada screen)
3. Cat tekstil
4. Cat PVC
5. Kain putih
6. Kertas HVS
7. M3 (larutan pengencer PVC sekaligus digunakan untuk membersihkan screen)
8. Lem kertas untuk batas posisi barang cetakan atau anleg. Batas posisi ini untuk bahan cetakan kertas dan plastik. Sedangkan untuk kaos atau kain mengandalkan penyinaran dari bawah untuk ketepatan posisi penyablonannya.

Tahapan dan Cara Kerja Cetak Saring

Adapun untuk tahapan dan cara kerjanya ialah sebagai berikut:

1. Permukaan Screen Sablon di poleskan cairan kental kusus/emulsion.
2. Cairan ini apabila telah dioleskan dan dikeringkan pada permukaan screen tidak boleh terkena sinar matahari “dipoleskan dan dikeringkan pada ruangan yang gelap/pada ruangan tanpa kena cahaya langsung ultra violet”. Tujuannya ialah jika terkena cahaya saat sudah kering maka polesan itu tidak akan dapat larut dengan air dengan baik.
3. Setelah kering, permukaan itu di tempel/ditutup dengan Film dari hasil Print BW “Black/White” pada media plastik/film transparent atau pada biasanya dapat menggunakan kertasa transparan dari Kalkir.
4. Dilanjutkan dengan proses “penyinaran” pada Sinar matahari atau dibawah sinar yang mengandung ultraviolet. Proses penyinaran ini ditentukan dnegan “Hitungan” untuk mengukur lamanya penyinaran dan ditentukan oleh Keras tidaknya cahaya yang menerpa permukaan screen sablon itu.
5. Film kemudian dilepas dari permukaan screen, Film yang telah diprint itu akan “Menampakan” duplikasi dari apa yang telah kita printa pada layar.
6. Tahap selanjutnya ialah penyiraman permukaan screen dengan air. Cara penyiramanpun wajib berhati-hati sekali hal ini kenapa..?? karena hasil print yang tampak pada screen jika terkena air maka akan terlarut, ini disebabkan oleh sebab film yang dicetak “Hitam” dan permukaan layar yang ditutup Hitam tidak akan mengeras “karena tidak tembus sinar”. Begitu sebaliknya, disinilah perlu kehati-hatian dalam proses penyiraman yang sering disertai dengan perangkat bantu “Semprot air mini” dengan tujuan agar air bisa lebih keras dan bisa bagus tembus melelehkan hasil print yang tercetak.
7. Tahapan selanjutnya yakni pengeringan kembali dari proses diatas dan dilanjutkan pada proses cetak dengan pemberian tinta kusus Sablon.
8. Proses eksekusinya ialah dengan menuangkan tinta di atas layar dan lalu disapu menggunakan palet atau rakel yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna. Sementara bahan yang dicetak berada dibawah screen sablon dan dilakukan penekanan secara sedemkian rupa. Jadi proses cetak sablon ialah tiap warna dalam sekali cetak.

Baca Juga :  Logam – Pengertian, Sifat, Ciri, Jenis, Dan Klasifikasi

Proses Cetak Saring/Sablon

1. Persiapan
Sebelum melakukan kegiatan menyablon persiapkan dulu Desain, Alat dan Bahannya.

a. Desain
Tahap pembuatan desain merupakan tahap pertama yang harus dilakukan dalam melakukan kegiatan menyablon. Biar lebih mudahnya pergunakan software CorelDraw. Desain sablon yang baik adalah sebagai berikut:

  • harus sesuai dengan konsep yang dikehendaki, tidak terlalu banyak warna, karena semakin banyak warna maka roses pembuatannya semakin susah.
  • Setelah desain sablon dibuat, maka desain harus dipisahkan berdasarkan warnanya, dan dicetak pada kertas kalkir dengan warna gelap (hitam).

b. Alat

  • Lampu penyinaran
  • Meja Sablon
  • Screen
  • Rakel
  • Busa / Spon
  • Kain Hitam
  • Triplek
  • Sprayer
  • Hair Dryer
  • Pengaduk
  • Gelas aqua
  • Isolasi
  • Koran bekas
  • Kain lap
  • Gunting

c. Bahan

  • Obat Afdruk / emulsion dan sensitizer
  • Pasta
  • Pewarna
  • Binder
  • Obat penghapus

2. Proses

a. Siapkan bahan dan alat yang dibutuhkan
b. Mencampur obat afdruk yang terdiri dari emulsion dan sensitizer kedalam gelas aqua dengan perbandingan 1 : 5.
c. Mengoleskan obat afdruk pada permukaan screen secara rata pada bagian depan dan belakan screen dengan menggunakan rakel. Cairan ini apabila telah dioleskan dan dikeringkan pada permukaan screen tidak boleh terkena sinar matahari atau cahaya yang terlalu terang (dipoleskan dan dikeringkan pada ruangan yang gelap /Pada ruangan tanpa kena cahaya langsung). Tujuannya adalah agar cairan tersebut tidak mengeras sehingga bisa larut bila terkena air.
d. Mengeringkan screen yang telah diberi obat afdruk dengan menggunakan hairdrayer atau kipas angin diruangan yang tidak terkena cahaya secara langsung.
e. Menempelkan film pada permukaan screen bagian depan dengan posisi film terbalik dan direkatkan dengan isolasi plastik.
f. Penyinaran, bisa dilakukan dengan menggunakan cahaya matahari dengan lama penyinaran antara 20 sampai 40 detik pada waktu antara jam 09.00 WIB. sampai 15.00 WIB. Apabila penyinaran dilakukan dengan menggunakan meja afdruk maka lama penyinaran adalah 6 menit dengan kedekatan lampu dengan screen 20 cm dan lampu yang digunakan sebanyak 3 lampu dengan daya 15 watt.
g. Screen dicuci, setelah proses penyinaran screen kemudian dicuci dengan air bersih, bagian yang akan dibuat berlubang digosok-gosok dan disemprot dengan sprayer sampai benar-benar bersih dan berlubang, kemudian keringkan screen dengan sinar matahari atau gunakan hairdrayer.

3. Proses Cetak

a. Siapkan kaos yang akan disablon di atas meja sablon, bagian bawah kaos diberi trilek atau kertas karton untuk mengantisipasi cat tembus.
b. Pasang screen pada meja sablon
c. Penuangan cat, pewarna terlebih dahulu dicampur dengan pasta dan binder, kemudian diaduk dalam sebuah wadah sampai rata, kemudian baru dituangkan pada screen, motif yang akan disablon jangan sampai tertutu pewarna dulu.
d. Mencetak, setelah cat tertuang, kemudian sapu menggunakan rakel secara berulang-ulang, satu arah, sampai tinta betul-betul keluar dari ermukaan screen dan menempel ada ermukaan kain.
e. Angkat screen, setelah dicetak dengan sempurna baru kemudian screen diangkat. Setelah selesai, cuci screen sampai bersih agar bisa digunakan kembali.

Contoh Gambar Cetak Saring/Sablon

 

Demikianlah pembahasan tentang Seni Kriya Cetak Saring (Sablon) dengan ulasan yang meliputi Pengertian, Sejarah, Alat, Bahan, Tahapan, Cara Kerja, Proses & Contoh Gambar Sablon. Semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman. Terimah kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.