Stainles Steel – Pengertian, Sifat Fisik, dan Jenis-jenis Stainles Steel

Pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang Stainles Steel – Pengertian, Sifat Fisik, dan Jenis-jenis Stainles Steel. Nah, untuk info lebih jelasnya dapat disimak penjelasan dibawah ini.

Pengertian Stainles Steel

Stainless steel adalah paduan logam yang lebih disukai untuk membuat peralatan dapur, karena tidak mempengaruhi rasa makanan. Permukaan peralatan stainless steel yang mudah dibersihkan. Minimal pemeliharaan dan daur ulang total peralatan stainless steel juga berkontribusi terhadap popularitas mereka. Stainless steel adalah nama universal untuk paduan logam, yang terdiri dari Kromium dan Besi. Sering disebut juga dengan baja tahan karat karena sangat tahan terhadap noda (berkarat).

Stainless steel dapat bertahan dari serangan karat berkat interaksi bahan-bahan campurannya dengan alam. Stainless steel terdiri dari besi, krom, mangan, silikon, karbon dan seringkali nikel and molibdenum dalam jumlah yang cukup banyak.

Elemen-elemen ini bereaksi dengan oksigen yang ada di air dan udara membentuk sebuah lapisan yang sangat tipis dan stabil yang mengandung produk dari proses karat/korosi yaitu metal oksida dan hidroksida. Krom, bereaksi dengan oksigen, memegang peranan penting dalam pembentukan lapisan korosi ini. Pada kenyataannya, semua stainless steel mengandung paling sedikit 10% krom.

Keberadaan lapisan korosi yang tipis ini mencegah proses korosi berikutnya dengan berlaku sebagai tembok yang menghalangi oksigen dan air bersentuhan dengan permukaan logam. Hanya beberapa lapisan atom saja cukup untuk mengurangi kecepatan proses karat selambat mungkin karena lapisan korosi tersebut terbentuk dengan sangat rapat. Lapisan korosi ini lebih tipis dari panjang gelombang cahaya sehingga tidak mungkin untuk melihatnya tanpa bantuan instrumen moderen.

Besi biasa, berbeda dengan stainless steel, permukaannya tidak dilindungi apapun sehingga mudah bereaksi dengan oksigen dan membentuk lapisan Fe2O3 atau hidroksida yang terus menerus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Lapisan korosi ini makin lama makin menebal dan kita kenal sebagai karat.

Stainless steel, dapat bertahan dan tidak bernoda justru karena dilindungi oleh lapisan karat dalam skala atomik.

SIFAT FISIK STAINLESS STEEL

Stainless steel juga dikenal dengan nama lain seperti CRES atau baja tahan korosi, baja Inox. Komponen stainless steel adalah Besi, Krom, Karbon, Nikel, Molibdenum dan sejumlah kecil logam lainnya. Komponen ini hadir dalam proporsi yang bervariasi dalam varietas yang berbeda. Dalam stainless steel, kandungan Krom tidak boleh kurang dari 11%.

Baca Juga :  Pengertian Lembaga Sosial - Ciri-ciri dan Fungsi

Beberapa sifat fisik penting dari stainless steel tercantum di bawah ini:

  • Stainless steel adalah zat keras dan kuat.
  • Stainless steel bukan konduktor yang baik (panas dan listrik).
  • Stainless steel memiliki kekuatan ulet tinggi. Ini berarti dapat dengan mudah dibentuk atau bengkok atau digambar dalam bentuk kabel.
  • Sebagian varietas dari stainless steel memiliki permeabilitas magnetis. Mereka sangat tertarik terhadap magnet.
  • Tahan terhadap korosi.
  • Tidak bisa teroksidasi dengan mudah.
  • Stainless steel dapat mempertahankan ujung tombak untuk suatu jangka waktu yang panjang.
  • Bahkan pada suhu yang sangat tinggi, stainless steel mampu mempertahankan kekuatan dan tahanan terhadap oksidasi dan korosi.
  • Pada temperatur cryogenic, stainless bisa tetap sulit berubah.

Jenis-jenis Stainless Steel

  1. Stainless Steel Martensitic

Martensitic memiliki kandungan krom sebanyak 12-14% dan karbon sebanyak 0,08-2%. Stainless Steel martensitic dibagi lagi ke dalam beberapa tipe yaitu:

Tipe 410
Tipe ini mempunyai kandungan krom sebanyak 13% dan 0,15% karbon. Penggunaan tipe ini biasanya pada pengerjaan dingin.

Tipe 416
Kandungan pada tipe ini hampir sama dengan tipe 410, bedanya terdapat penembahan sulfur/belerang.

Tipe 431
Tipe ini mengandung 17% krom, 2,45% nikel, dan 0,15% maksimum karbon.

Martensitic Stainless Steel adalah perpaduan 35% karbon dan 1% kromium. Karakteristiknya bersifat magnetik, tahan korosi sedang, tetapi tidak sesuai untuk las. Biasanya digunakan pada pembuatan pisau bedah, alat makan, pegas, dan anak panah.

Material ini diaplikasikan untuk kekuatan tinggi dan tahan karat. Keunggulan Stainless Steel ini yaitu mudah dibentuk, biaya operasi rendah, kuat, dan tahan karat.

  1. Stainless Steel Ferritic

Ferritic mengandung kromium dalam kadar tinggi dengan karbon rendah. Kandungan krom sebesar 17% dengan karbon antara 0,08-0,2%. Jenis ini mempunyai ketahanan terhadap korosi yang meningkat pada suhu tinggi. Penggunaannya terbatas karena sulit ditempa dengan panas. Baja ini mempunyai sifat magnetis dan umumnya dibuat dalam bentuk strip.

Karakteristik lain Ferritic adalah ketahanan tinggi terhadap korosi. Kualitasnya juga cukup bagus. Ferritic digunakan dalam industri otomotif seperti pipa dan sistem pembuangan.

Ferritic dapat mengurangi biaya operasi proyek karena harganya lebih murah daripada tipe Stainless Steel yang lain.

Baca Juga :  Pengertian Leukosit : Nilai Normal, Macam, Jenis, Fungsi, Sifat, Kelainan, Berlebihan dan Cara Hitung

Tipe Ferritic meliputi 409 dan 410S, keduanya dapat diproses dengan pengelasan laser untuk menyambung. Sehingga Feritic Stainless Steel dapat dijadikan produk berbentuk sudut, penyangga, saluran, dan bentuk kustom.

Tipe 409
Tipe 409 merupakan Ferritic yang stabil terdiri dari titanium dan krom dengan 11% krom. Aplikasi tipe 409 ialah untuk perlindungan terhadap oksidasi dan korosi pada baja karbon. Pelapisan dilakukan seperti pada knalpot kendaraan untuk menjadikannya bebas karat. Selain itu juga diaplikasikan pada peralatan rumah tangga dan pertanian.

Type 410S
Ferritic tipe 410S memiliki kandungan karbon rendah dengan tambahan titanium dan columbium. Sifat utamanya yaitu tahan terhadap suhu tinggi sehingga tidak retak ketika dilas. Material ini tidak dapat dikeraskan tetapi cocok untuk las. Penggunaannya ialah pada industri minyak dan gas, petrokimia, dan pertambangan.

  1. Stainless Steel Austenitic

Adalah Stainless Steel dengan kandungan krom pada kisaran antara 17-25% dan nikel pada kisaran 8-20%. Di dalamnya juga terdapat unsur atau elemen tambahan untuk mencapai sifat yang diinginkan. Austentic terbagi ke dalam beberapa tipe yaitu.

Tipe 301
Adalah tipe dengan bahan dan pertimbangan ekonomis. Cocok digunakan pada air tawar, tetapi tidak sesuai untuk penggunaan di air laut.

Tipe 321
Tipe ini merupakan variasi tipe sebelumnya dengan penambahan karbon dan titanium secara proporsional untuk pengerjaan suhu tinggi. Aplikasi material ini yaitu pada pemanas suhu tinggi dan kompensator.

Tipe 347
Hampir serupa dengan tipe 321, tetapi untuk tipe ini terdapat tambahan niobum.

Tipe 316
Tipe ini memiliki tambahan unsur molibdenum 2-3% sehingga lebih tahan terhadap korosi. Stainless Steel 316 cocok untuk peralatan pada instalasi di laut. Aplikasi material ini yaitu pada tangki penyimpanan bahan kimia, pemipaan, dan bejana bertekanan.

Tipe 317
Tipe 317 merupakan perubahan dari tipe 316 dengan tambahan unsur molybdenum 3-4% sehingga dapat digunakan pada temperatur dingin dan air laut.

Austenitic Stainless Steel cocok untuk suhu rendah, mempunyai sifat non magnetic, dan tidak dapat dikeraskan melalui perlakuan panas. Austenitic biasanya digunakan untuk arsitektur atap, talang, pintu, dan jendela, wastafel dapur, oven, dan tangki bahan kimia.

Baca Juga :  Titik Didih – Pengertian, Kenaikan, Rumus, Diagram dan Faktor
  1. Stainless Steel Duplex

Stainless Steel Duplex adalah jenis Stainless Steel yang mengandung unsur chromium, nikel, molibdenum, dan nitrogen pada kadar seimbang. Bahan ini cocok untuk digunakan pada suhu serendah -50°C hingga +300°C. Beberapa type nya antara lain:

UNS S31803
Tipe ini merupakan Duplex yang paling banyak digunakan. Komposisi UNS S31803 yaitu 0,15% nitrogen, maksimal 0,03% karbon, 22% krom, dan 5,5% nikel.

UNS S32750
Tipe Duplex ini mempunyai sifat hampir sama dengan tipe 316 tetapi kekuatan tariknya dua kali lipat. Komposisinya yaitu 0,03% karbon, krom sebanyak 23%, nikel sebesar 4% dan nitrogen sebanyak 0,1%.

UNS S32750
Tipe ini adalah kelompok Duplex yang mempunyai ketahanan terhadap korosi yang tinggi. Komposisinya terdiri dari 0,03% maksimum karbon, krom 25%, nikel 7%, molibdenum 4%, dan nitrogen 0,028%.

Keunggulan Duplex yang tidak dimiliki oleh kelompok yang lain adalah ketahanannya terhadap korosi, tahan terhadap serangan klorida, dan memiliki kekuatan tarik yang tinggi.

Selain itu, kelebihan Duplex adalah tahan karat. Dibandingkan jenis yang lain, Duplex paling tahan terhadap korosi. Sehingga material ini cocok untuk penggunaan bawah laut atau lingkungan yang mudah membuat korosi.

Duplex tidak mudah dicetak seperti Austenitic Stainless Steel, tetapi duplex lebih kuat. Selain itu, duplex juga lebih fleksibel dan memiliki kegunaan yang sangat luas.

Di samping itu, Duplex Stainless Steel sangat kuat meski dalam bentuk lembaran yang tipis. Sehingga bobotnya lebih ringan dan tidak memerlukan sebanyak jenis Stainless Steel lain. Karena ringan, Duplex mudah dipindahkan dan efisien untuk pengangkutannya.

Jadi, Stainless Steel merupakan bahan panas yang memiliki berbagai kategori dengan karakteristik berbeda-beda. Namun, satu keunggulan yang dimiliki semua jenis Stainless Steel adalah tahan karat.

Demikian info kali ini tentang Stainles Steel – Pengertian, Sifat Fisik, dan Jenis-jenis Stainles Steel, Terima kasih banyak atas kunjungannya. semoga bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published.